BIRTHDAY WISH

Begitu keluar dari ruang kuliah Chaca langsung mengambil handphone dari saku celananya. Somebody calls her. Meskipun tidak bersuara, handphone miliknya terus bergetar sedari tadi, sedikit banyak menganggu konsentrasi Chaca yang sedang ujian.

“Ya?! Ada apa Re? Gue tadi masih ujian kali?” angkat Chaca sewot.

“Sabar, Buu.. Gue juga nggak tau kali, lo lagi ujian” sahut Rere di seberang sana, “Cha.. Acara traktiran ulang tahun lo dipercepat hari ini aja ya?! Mumpung Sisil ada di Bandung, oke ya?! Ini gue dah bareng Sisil, o-te-we ke kampus lo. Bentar lagi juga nyampe, byeeee…”

Klik. Rere langsung menutup telponnya, tanpa memberi kesempatan Chaca bicara. Chaca Cuma merengut kesal, tapi toh dia tetap menunggu Sisil dan Rere, dua sohibnya sejak SMA. Tak berapa lama Honda Jazz merah milih Sisil sudah sampai, dan Chaca langsung naik.

“Happy Birthday, Cha!” ucap Sisil begitu Chaca masuk ke dalam mobilnya.

“Hee.. thank you, tapi ulang tahun gue masih besok kaliii.. Sil lo tambah kurus aja deh “ jawab Chaca

“Iya, ya. Tadi gue juga bilang gitu, jangan terlalu ketat diet dong Sil.. kalau berisi gitu kan lebih seksi” Rere ikut berkomentar.

“So, kita kemana nih?” Alih-alih menjawab komentar teman-temannya, Sisil malah mengalihkan pembicaraan.

“mm, kemana ya? Terserah kalian deh, asal nggak ngerampok gue.. kalian sih minta traktiran main todong, dadakan!” jawab Chaca

“Tinggal gesek aja atuh Cha, kapan lagi coba kita punya kesempatan makan siang bareng model terkenal Pricissilia Dharma, seleb getho loh..” jawab Rere usil

“Iiihh… apaan sih… nggak penting banget deh Re” bales Sisil, cemberut. Rere dan Chaca tertawa puas, sudah lama mereka tidak bercanda bertiga seperti ini. Dan begitulah, ketiganya larut dalam canda dan nostalgia dibumbui gosip-gosip, commonly girls talk.

Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu
Di hari kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku

Kita s’lalu berpendapat, kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang indah
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kaupun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi
(sahabat sejati – Sheila on 7)


***

Rere dan Sisil mulai sibuk membolak-balik menu, Chaca malah sibuk mengaduk-aduk tasnya, mencari handphone miliknya.

“Kayaknya HP gue ketinggalan di mobil deh, pinjem kunci mobilnya ya Sil”

“Ah lo Cha, kebiasaan banget deh! Suka ninggalin sesuatu” komentar Rere sambil geleng-geleng kepala. Sisil hanya tertawa sambil menyerahkan kunci mobilnya.

“Bawel. Pinjem HP lo ya Re, buat miscall” ucap Chaca sambil merebut handphone Rere dari empunya. Rere menggerutu. Sisil semakin tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.

Terburu-buru Chaca kembali ke mobil Sisil, sampai lupa meletakkan tasnya. Benar, rupanya handphone masih tertinggal di jok mobil, tertutupi oleh jaket Sisil. Ketika Chaca mengangkat jaket tersebut ada barang yang terjatuh. Chaca memungutnya. Sebuah bungkusan plastik kecil yang beirisi bubuk putih. Entah kenapa, tiba-tiba, perasaan tidak enak mneghinggapi hati Chaca. Ingatannya memutar ulang acara seminar anti-narkoba seminggu yang lalu, berganti-ganti dengan sosok Sisil. Firasatnya mengatakan kalau barang yang sedang dia pegang adalah narkoba, shabu-shabu atau apalah itu, dan yang paling mengganggu adalah pikiran jelek kalau Sisil mengkonsumsi barang haram itu. Mati-matian Chaca berusaha menghilangkan pikiran itu, namun pikiran itu justru semakin kuat.

“Ketemu nggak Cha?” tepuk Rere dari belakang, rupanya Rere menyusul. Terkejut, Chaca refleks memasukkan plastik kecil tadi ke dalam tasnya.

“Eh.. Ketemu, kok ketemu! Um.. Udah yuk, masuk!” jawab Chaca agak gugup, tapi Chaca berusaha bersikap senormal mungkin.

Pikiran buruk tadi terus menganggu Chaca. Saat teman-temannya bercanda dan tertawa, Chaca hanya terdiam sesekali pura-pura tertawa, tawanya terasa kering.

“Yuk ah, pulang! Mendung tuh! Keburu ujan” kata Chaca tiba-tiba sambil melambaikan tangan memanggil pelayan, meminta bill.

“Oia, tadi katanya Anto mo jemput gue, jadi kalian berdua aja ya, thanks ya Cha. Happy early Birthday, hahaha, may your wishes come true” ucap Rere sambil cipika-cipiki dengan Chaca.

Sepanjang perjalanan pulang, Chaca semakin pendiam. Hanya berdua dengan Sisil, membuatnya semakin tertekan. Dalam hatinya, dia ingin sekali menanyakan soal barang tadi pada Sisil, tapi Chaca takut, takut apa yang dia pikirkan benar.

“Napa sih lo, Cha? Diem mulu, sakit?” Tanya Sisil khawatir melihat Chaca. Chaca cuma menggeleng. Mata Chaca tampak berkaca menahan jatuhnya air mata. Suasana hujan semakin menambah suasana hati Chaca semakin biru.

“bener lo nggak apa-apa? Muka lo pucet banget loh” Tanya Sisil lagi, tak yakin dengan gelengan kepala Chaca. Kali ini air mata Chaca menetes perlahan, persis saat hujan mulai menderas.

“Sil…” panggil Chaca pelan, hatinya masih ragu, jeda beberapa detik, Chaca nggak melanjutkan kalimatnya

“Ya, kenapa Cha?” Tanya Sisil

“Ini.. ini… ini punya Lo, Sil?” Tanya Chaca akhirnya dengan suara bergetar. Tanganya juga gemetar memegang plastik tadi. Chaca mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sambil berharap pikiran buruknya salah besar.

Sisil terperanjat melihat, apa yang dipegang Sisil dan langsung menghentikan mobilnya. Sisil serta merta merebut plastik itu dari tangan Chaca. Wajah Sisil memerah seperti menahan marah.

“Jawab, Sil. Please”

“Kalaupun ini punya gue, bukan urusan LO!” bentak Sisil

“Jadi.. jadi bener kan ini punya lo? i.. itu..” Chaca tak mampu melanjutkan kalimatnya, sebuah pertanyaan untuk memastikan, apakah itu benar barang haram. Suara Chaca bergetar menahan tangis yang semakin membanjir.

“Gue udah bilang, INI BUKAN URUSAN LO! Kenapa sih semua orang mesti mau tau urusan orang lain” Sisil tidak bisa lagi menahan emosinya, “Ya! GUE MAKE! GUE NGEDRUGS! PUAS LO?!” seakan tahu apa yang dibenak Chaca, Sisil mengungkapkan semuanya.

Chaca tersentak, seluruh badannya lemas. Sisa harapannya terhempas, semua terganti oleh satu pertanyaan.

“Tapi.. kenapa Sil?” Tanya Chaca lirih sekali, hampir tenggelam di antara gemuruh suara hujan dan petir.

“Lo tuh emang bawel ya? Resek! Apa urusannya sama elo sih Cha?!” jawab Sisil

“Jelas ini urusan gue, karena lo tuh sahabat gue. Masalah lo masalah gue juga” kali suara Chaca mulai menguat, sedikit menyentak. Tak ada jawaban dari Sisil, keduanya menangis dalam kebisuan.

“Huh, gue nggak yakin Cha! karena lo nggak akan pernah ngerti rasanya jadi gue” ucap Sisil pelan, “Lo nggak tau rasanya hidup di keluarga yang penuh pura-pura, Lo nggak tau kan Cha rasanya nggak pernah dianggep sama bokap lo? Lo juga nggak tau kan rasanya nerima kenyataan kalo lo tuh anak haram? Lo nggak tau kan rasanya nahan rasa benci sama nyokap lo sendiri? Lo nggak tau kan?!” Sisil memberi jeda sebentar, “Karena lo berlimpah kasih sayang Cha! Sejak Nenek meninggal, cuma ini Cha, cuma ini yang bisa bantu gue ngelupain semuanya, cuma ini yang ada di sisi gue yang nggak banyak cingcong” jelas Sisil dengan suara perlahan, pasrah.

Chaca terkejut, merasa bersalah, tidak pernah mengetahui semua ini. Di matanya selama ini Sisil adalah anak enerjik penuh talenta yang sibuk dengan semua kegiatannya. Tidak pernah sekalipun Chaca melihat Sisil terlihat murung atau bahkan hanya sekedar melamun. Chaca refleks memeluk Sisil.

“Gue sayang banget sama lo, Sil. Lo tuh temen gue, sobat gue, lo tuh dah kayak sodara buat gue. Rere… keluarga gue… juga sayang sama Lo. Kita juga bangga sama Lo, Sil! Lo, juga punya banyak fans, mereka juga pasti sayang sama Lo..” jelas Chaca meyakinkan, masih sambil memeluk Sisil

“Bullshit, Cha.. Bullshit..!” bantah Sisil pelan sambil melepaskan pelukan Chaca, “gue mau sendirian Cha” lanjutnya sambil menunduk. Chaca memilih turun dari mobil, meski sebenarnya dia masih ingin disana menemani Sisil. Toh rumahnya tidak begitu jauh lagi dan hujan hanya tinggal menyisakan rintik.

“Percaya atau enggak, kita bener-bener sayang sama Lo, Sil… Jadi Lio juga harus sayang sama diri lo sendiri” kata Chaca sebelum menutup pintu mobil. Honda Jazz merah itu tidak langsung beranjak pergi.

Chaca mulai berjalan pulang, terisak, berusaha tegar dan menghentikan tangis. Honda Jazz merah itu pun melaju kencang, kemudian kaca jendelanya terbuka, orang di dalamnya melempar sesuatu. Plastik itu! Plastik yg berisi bubuk laknat itu! Plastik itu jatuh di pinggir jalan, kemudian hanyut terbawa aliran genangan air sisa hujan tadi.

Kulihat Mendung Menghalangi Pancaran Wajahmu
Tak Terbiasa Kudapati Terdiam Mendura
Apa Gerangan Bergemuruh Di Ruang Benakmu
Sekilas Galau Mata Ingin Berbagi Cerita

Kudatang Sahabat Bagi Jiwa Saat Bathin Merintih
Usah Kau Lara Sendiri Masih Ada Asa Tersisa
(Usah Kau Lara Sendiri – Katon Bagaskaran with Ruth Sahanaya)


***

Jam tepat menunjukkan jam 12 malam. Papa, Mama, Bang Didit n Dek Puput membangunkan Chaca dengan nyanyian Happy Birthday yang berisik sekali. Tangan Mama membawa tart mini

“Happy Birthday” Ucap semuanya, sambil merubung Chaca

“Ayo, Kak tiup lilinnya, biar afdol, biar sah” kata puput cerewet.

“Beuu, bilang aja ngantuk” bantah Bang Didit sambil menoyor pelan adiknya yg paling bungsu. Chaca bersiap meniup lilin-lilin itu.

“Eits, make a wish dulu” kata Papa

Chaca cuma tersenyum, dan langsung meniup lilinnya. Di hatinya telah terselip sebuah permintaan, Tuhan tahu apa yang Chaca minta…

I’ll make a wish for you
And hope it will come true
That life would just be kind
To such a gentle mind
If you lose your way
Think back on yesterday
Remember me this way
Remember me this way
(Remember Me This Way – Jordan Hill)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s