Menjadi Kartini

Yaya, saya telat ini sudah 25 April. Tapi saya rasa semangat Kartini nggak cuma muncul di tanggal 21 April saja kan? Jadi, selamat Hari Kartini.. (maksa.com)

Masih inget nggak sewaktu kecil untuk merayakan Hari Kartini, kita seringkali berfestival dengan pakaian daerah. Untuk di pulau Jawa, gadis cilik banyak yang menggunakan kebaya lengkap dengan sanggulnya, sebagaimana Kartini berdandan. Atau kadang diadakan lomba memasak, menjahit, merangkai bunga, dan lain-lain. Pernah suatu kali saya membaca komentar yang bernada skeptis. “Kenapa sih harus pake kebaya atau lomba masak? Bukankah itu justru melambangkan feodalisme, hal yang selama ini dilawan oleh Kartini” . Hehe, komentar tepatnya sih nggak seperti ini, lebih panjang dan lebih logis. Uh, maaf, saya memang sering terkena short-memory-syndrome.Tapi memang ada yang salah dengan berkebaya? Apakah ketika kita sudah menjadi wanita modern berarti bukan saatnya lagi memakai kebaya yang notabene pakaian budaya khas Indonesia? Saya pikir tidak. Memang sih, kebaya kurang tepat untuk menyimbolkan perjuangan Kartini. Tapi apa salahnya merayakan Kartini dengan berkebaya, mengenalkan dan mempertahankan pakaian budaya. Dan justru bukankah hebat ketika kita bisa tampil berkebaya pada sebuah selebrasi keberhasilan kita sebagai Kartini modern?

Bagi sebagian orang menjadi Kartini masa kini harus ditunjukkan dengan pencapaian yang signifikan, misalnya pencapaian karir. Tapi beberapa orang dengan sinisnya menilai hal tersebut justru sebagai perbudakan dalam bentuk lain. Beberapa lainnya menyatakan sebaliknya, ‘hanya’ menjadi ibu rumah tangga berarti menyiakan perjuangan Kartini. Benarkah? Buat saya pribadi, peran ibu rumah tangga, tidak bisa diawali dengan kata ‘hanya’. Kalau disamakan dengan sebuah profesi, IRT jam kerjanya 24 jam dalam sehari. Malah, kalau kata Sophie Navita, 25 jam sehari. Menjadi ibu rumah tangga berarti dalam pundaknya memikul tanggung jawab yang sama besarnya dengan sang suami dalam membangun rumah tangganya, bukankah ini berarti asas sama rata berlaku? Menjadi ibu rumah tangga juga berarti perjuangan untuk anak-anaknya, meyakinkan bahwa anak-anaknya dapat bersekolah, dan dapat hidup dengan layak, bukankah ini berarti perjuangan yang sama seperti Kartini?

Intinya, saya pikir setiap perempuan punya perjuangannya sendiri-sendiri, menjadi Kartini dalam hidupnya masing-masing.

Ah, lalu saya sendiri? Sudahkah saya berjuang seperti Kartini minimal untuk diri saya sendiri? Humm, mungkin saya sudah terlalu banyak bicara dan justru baru sedikit sekali berjuang menjadi Kartini…

⌣»̶·̵̭̌·̵̭̌✽̤̥̈̊ Posted with WordPress for BlackBerry ✽̤̥̈̊·̵̭̌·̵̭̌«̶⌣

Iklan

6 thoughts on “Menjadi Kartini

    • Eh, iya ya… Jarang ya kyknya wacana cut nyak dien, dewi sartika, cut mutia, dkk… mungkin krn nggak ada hari yg khusus ditujukan untuk beliau-beliau… 🙂

  1. Lalu kalau bukan kebaya, simbolisme apa yang paling dekat untuk melambangkan Kartini? Dia gadis Jawa (Jepara) yang punya impian dan cita-cita. Mungkin itu alasan kenapa memakai kebaya karena untuk mengingat Kartini-nya, bukan perjuangan Kartini (ngg.. iya sih ini diingat juga, tapi perayaannya kan lebih ke Hari Kartini). Makanya kenapa wacananya bukan Cut Nya’ Dien atau Dewi Sartika. Mungkin :p

  2. akhirnya mampir juga ;p

    Saya setuju bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga itu bukan berarti menyia-nyiakan perjuangan kartini, tapi ada kalanya kita, para perempuan dan wanita dikekang oleh hal-hal dengan alasan ‘kamu kan perempuan’, baik dalam berkarir atau pun pendidikan, dan kata-kata yang biasanya terucap: ‘perempuan ujung-ujungnya ke dapur juga’. Walau berat mengakuinya, tapi sering kan kata-kata itu terlintas walau tidak secara eksplisit oleh orang-orang di sekitar kita?

    Saya setuju bahwa kita adalah kartini-kartini zaman sekarang yang puya caranya sendiri untuk berjuang, tapi saat pola pikir masih mengekang kita, bisakah kita berkata bahwa emansipasi sudah ditegakkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s