once upon a day in batam

Awal tahun ini, saya berkesempatan mendatangi Batam, untuk annual meeting dan selebrasi perusahaan. Begitu tahu lokasinya di Batam, langsung yang kepikiran buat ngetrip. Ide pertama yang muncul, otomatis adalah nyebrang ke negara tetangga, tapi kalo cuma ke negara berikon Merlion itu rasanya malas. Gara-gara beberapa upload photo teman-teman, tujuan saya justru ke Melaka. Tapi setelah berhitung, kok agak mengganjal di dompet ya? :p  Sepertinya terlalu memaksakan kalau saya tetep nekad jalan.

Ide selanjutnya.., mengingat ada sahabat dekat yang keukeuh minta ditemenin ke Singapura, saya menawarkan untuk ngetrip sekalian, mumpung saya udah di batam. Perjanjiannya ketemuan di batam, baru nyebrang bareng. Pun akhirnya rencana yang ini batal, si sohib agak kesulitan menyamakan jadwal.

Dan akhirnya, saya memilih untuk ngetrip di Batam aja, lebih saving budget. Karena rata-rata teman-teman kantor berencana untuk nyebrang, atau justru langsung pulang, saya siap buat ngetrip sendirian. Dan segala pencarian mengenai pariwisata lokal Batam pun dimulai.

Awalnya cukup putus asa, ternyata mencari informasi soal pariwisata lokal di Batam tidak mudah. Lama-lama ada juga referensi soal pariwisata alam dan budaya di Batam. Dan mulai membidik tujuan ngetrip, tapi masih ada satu kendala lagi, lokasi tujuan ngetrip tadi rupanya minim transportasi umum, nggak mau ambil pusing, saya memutuskan untuk sewa mobil aja.

Nggak kerasa, disibukkan dengan persiapan annual meeting dan ngurusin acara sebelumnya, hari H pun tiba. Oops, belum pesan mobil sewa nih… tapi karena sebelumnya dapat informasi kalau di batam tuh banyak mobil-mobil carteran dan sewaan gitu, saya jadi menyepelekan masalah mobil ini. Terbanglah saya ke batam dengan persiapan seadanya.

Jreng-Jreng….

Dan ternyata apa yang terjadi?  Ternyata hotel tempat menginap ini merupakan resor, yang jauh kemana-mana, sama sekali nggak ada kendaraan umum yang melintasi daerah ini. Selain bus pariwisata yang disewa oleh panitia, satu-satunya akses keluar adalah dengan jasa sewa mobil di concierge yang harga perjamnya bikin eneg. Akhirnya mencoba menelpon nomor yang direkomendasikan seorang rekan dan menyanggupi untuk menjemput ke-esokkan harinya. Merasa tidak ada masalah, saya mulai tenang mengikuti jadwal acara meeting.  Perubahan pertama, muncul dua kandidat yang mau ikut bareng ngetrip, yess artinya bisa sharing budget. Di ujung hari, jadwal ngetrip saya juga sedikit berubah, ada tugas tambahan dari bu boss, belanja kekurangan oleh-oleh untuk para customer. Oke, tidak terlalu menjadi masalah sepertinya, toh saya juga tetap harus belanja oleh-oleh buat pribadi.

Masalah muncul justru  setelah reconfirm dengan rental mobil soal lokasi penjemputan, baru ketahuan kalau ternyata, posisi rental mobil itu bukan di Batam, tapi di Jogya. Hah? Kok bisa? Sudahlah jangan tanya, entah bagaimana awalnya percakapan kami sampai bisa miscommunication sejauh itu.

Pagi datang, saya coba menghubungi teman lama yang memang kebagian dinas di Batam, rupanya ada teman sekantornya yang juga punya usaha rental mobil. Namun apes, semua mobil sudah fully booked, pun dengan jaringannya yang lain.

Sepanjang pagi, bolak-balik koordinasi dan gonta-ganti plan. Dan untungnya dapet juga rental mobil, jalur trip ditentukan, Nagoya, pusat oleh2, dan kalau beruntung masih ada kesempatan ke Barelang. Destinasi awal saya ngetrip terpaksa dibatalkan, perhitungan waktunya nggak cukup.

Nagoya, apa lagi kalau bukan shopping. Saya?  cuma ikut liat-liat aja, apalagi saya tidak begitu mengerti soal harga pasarannya, salah-salah malah beli kemahalan. Sempet sih tergoda beli jam tangan, tapi ah sudahlah, jam tangan bukan barang yang sulit dicari juga. Destinasi berikutnya pusat oleh-oleh, nggak terlalu jauh dari Nagoya. Seorang teman puas banget beli oleh2 coklat yang lagi diskon, saya sibuk berburu oleh-oleh yang dimaksud bu boss, dan ternyata stocknya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Oleh petugasnya kami direferensikan ke Nagoya, what? Balik lagi ke Nagoya, kali ini di ke Nagoya Plaza. Selain mencari sisa kekurangan oleh-oleh, kami menyempatkan mencari barang-barang elektronik, yang siapa tahu lebih murah dari harga pasaran di Jakarta. Beberapa counter toko kami datangi, tapi selisihnya nggak terlalu jauh, cenderung sama, bahkan penawaran pertama bisa lebih mahal.

Done, akhirnya urusan belanja ini kelar juga, sambil nunggu si sopir sholat jumat, kami makan siang, dan ditutup dengan packing belanjaan buat dikirim via jasa courier ke Jakarta. Menghitung waktu Sepertinya masing sempat ke Barelang 1, photo sedikit buat kenang-kenangan sudah mampir ke landmark Batam, syaratnya kita harus menemukan city check in, yang sayangnya kami tidak berhasil menemukan kantor Garuda representative. Menyerah, pilih langsung menuju bandara, sisa waktu masih disempatkan membeli bolu pisang, yang diklain sebagai oleh-oleh khas Batam. Iyaaa, akhirnya kita belanja oleh-oleh LAGI…

Duuhh, iuef… jauh-jauh ke Batam ujung-ujungnya cuma mall, and window shopping,…. Ya sudahlah, mau gimana lagi 🙂 namanya juga ngetrip nebeng urusan kantor.

Iklan

4 thoughts on “once upon a day in batam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s