KL keping 1 : Pusing-pusing di tanah tetangga

Akhir bulan Mei kemarin, di tengah-tengahmb kehebohan load kerjaan, saya sempet nekad traveling ke KL demi memenuhi janji nemenin sobat melancong.

Awalnya niat traveling ini bakal dibuat bersambung gitu, dari kandang merlion ke negeri jiran. Karena satu dan banyak hal, akhirnya diputuskan trip kali ini berangkat ke Malaysia aja, daripada batal sama sekali. Dan begitulah, kami berdua berangkat.

Jadwal keberangkatan dari soetta jam setengah 12an dan mendarat sekitar jam 3an waktu bagian malaysia yang satu jam lebih cepat dibanding waktu jakarta. Dan setelah mendarat, meski sudah berusaha preventif dengan perbedaan bahasa melayu v.s bahasa indonesia, tetep aja susah menahan tawa saat membaca plang ‘tuntutan bagasi’. Haha, oke, baiklah, mari kita menuntut bagasi.

Setelah ketawa-ketawa berikutnya malah kebingungan. Penunjuk arah tempat imigrasi dan pengambilan bagasi mendadak hilang. Ooh ternyata mesti naik monorail dulu. Turun monorail, imigrasi dulu, baru deh bisa ‘menuntut bagasi’.

Dari KLIA ke pusat KL kami naik bus, the ceapest way out from airport, per orang seharga RM18. Harga ini berlaku ke tujuan KL central, eh tapi ke beberapa daerah spesifik, harganya juga masih sama. Kebetulan bukit bintang, lokasi penginapan kami, salah satu tujuannya juga. Ya tentunya dong kita ambil tiketnya yang langsung menuju ke bukit bintang. Melirik sepanjang airport sejak keluar imigrasi, gak keliatan tuh peta-peta gratisan, atau minimal flyer-flyer wisata domestik (atau emang dasar mataku-nya aja kali ya, kurang jeli memperhatikan). Tapi atas inisiatif si sobat, akhirnya dapet peta dari staff bus KL. Bekal penting buat berpusing-pusing.

Seingat saya tidak sampai satu jam udah sampai di KL central. Sebagian besar penumpang turun disini, tinggal tersisa 3 orang, saya, si sobat, dan seorang pria yang tiketnya bertujuan ke Pudu. Jiiah, rupanya busnya memang cuma sampai KL central aja, selanjutnya diterusin pake van yang lebih kecil. Dengan van ini semua penumpang di drop langsung di depan hotel masing-masing.

setelah leyeh-leyeh sebentar, nunggu maghrib sekalian, kami langsung capcus menuju spot destinasi pertama, jalan alor, surganya wisata kuliner chinese food. Wuih, ini jalan bener crowded sama pedagang, penikmat, plus mobil yang kok ya nekad lewat nih jalan. Suasananya chinese banget, jadi inget sama film-film hongkong. Di perempatan jalannya dipasangin lampion lampion merah.

Menu seafood paling mendominasi, dari yang serius ala restoran sampai yang ala kaki lima. Ngiler sih, tp entah kok takut nggak halal ya.. Hehe.. Menu lainnya ada sate, chicken wing barbeque, tukang penjual minuman tebu dan air mata kucing, juga sesekali terselip tukang buah dengan durian sebagai andalannya. Para penjualan duren ini menyiapkan sarung tangan plastik buat makan duriannya. Biar tangan nggak belepotan dan berbau (ah, padahal itu salah satu seninya kan ya)

Dari alor, kita nerusin jalan ke daerah shopping avenue bukit bintang, si sobat pengen photo di depan Sephora, salah satu shopping iconic KL karena bentuk bangunannya yang kreatif. Dalam masa pencarian Sephora ini kami malah menemukan plang ‘Walk Way to KLCC’, dan setelah menimbang jarak serta merayu si sobat, jadilah setelah saphora lanjut ke KLCC.

Tenyata yang dimaksud walkway ini berupa jembatan puanjang. Jembatannya ini dibuat tertutup, jadi nggak ada hembusan angin. Dindingnya ditutup kaca jadi masih bisa liat pemandangan kanan kiri. Trus juga dikasih penerangan sehinga terang benderang, dan sepertinya juga dilengkapi dengan pengatur suhu ruangan, jadi tetap nyaman. Jembatan ini nggak cuma menghubungkan bukit bintang dan KLCC aja. Tapi juga beberapa spot lainnya, yang tidak terlalu saya hapal, apalagi dicatat.

Sampai di KLCC, gerimis dan sudah cukup malam, jadilah kami hanya berfoto seadanya, ditambah ini kali pertama saya kenalan dengan kamera yg dibawa si sobat, jadi hasilnya, yaaa begitu deh.. Behubung jembatan tadi ada waktu tutupnya, kami tidak bisa berleha-leha, sebelum dikunci jembatannya.. Hehe..

ya begitu deh malam pertama sudah terlalui dengan cukup gempor, dan kami balik ke hotel demi mengumpulkan energi lagi untuk besok ke Malacca.

…to be continued…

note : foto juga nyusul ya

Iklan

One thought on “KL keping 1 : Pusing-pusing di tanah tetangga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s