KL keping 2 – Weekend ala Malacca

Cita-citanya demi efektiftas waktu pengen keluar kamar jam setengah 7 pagi. Ups ternyata jam 6 aja baru adzan subuh. Hihi, ngerasa aneh aja, udah jam 6, baru sholat subuh dan di luar masih gelap. Dan begitulah dengan segala aktifitas pagi, jam setengah 8 baru turun sarapan.

Berhubung pihak hotel sedang menerima grup tamu besar yang akan segera check out, tamu regular sedikit dianaktirikan. Selain grup, harus antri dulu untuk sarapan, menunggu ada yang kelar. Lumayan juga, 15 menit menunggu, heuheu, jadi teringat jaman ospek yang harus antri buat jatah air panas bikin mie instan dalam kemasan.

Well, ditambah dengan kondisi sarapan tadi, waktu trip kami tambah bergeser lagi. Jam setengah sembilan baru bisa keluar hotel. Tapi jam segitu jalanan masih cukup sepi, mungkin karena itu hari minggu. Lagi, kami melewati jalan alor dengan suasana yang jauh berbeda. Sepi dan bersih, tidak terlalu banyak sampah sisa semalam, hebat. Lampion-lampion yang sudah tak menyala lagi tetap terlihat semarak dengan merpati-merpati yang bertengger di atasnya.

Menurut hasil riset si sohib, menuju malaka, kami bisa naik bus dari KL sentral. Turun di KL sentral, kami celingukan nyari tempat bis, dan bertanyalah sama pak cik petugas setempat. Ups, katanya tidak ada bis dari KL sentral, kami harus naik dari TBS, tempat sentralisasi bis antarnegeri (CMIIW). Dan itu artinya kami harus naik monorail lagi balik arah, dan nanti lanjut lagi naik LRT. Jiah, bolak balik. Hehe ya sudahlah, namanya juga ngetrip pertama kali. Dan rupanya terminal bis ini memang baru saja diresmikan sebulan.

Terminal bis ini didesain mirip kayak airport. Saat membeli tiket ada loket-loket berjejer panjang. Awalnya kami fikir beda loket beda pengelola bis, tapi begitu sampai persis di depannya, rupanya ini layanan bis yang terintegrasi satu sama lain. Ada beberapa pilihan bis, lengkap dengan jam keberangkatan dan harganya. Tiketnya pun berupa print termal, isinya nama penumpang, nomor kursi, jadwal berangkat, dan nama bisnya, bahkan ada gatenya. Terminal bis ini ada ruang tunggu yang besar banget, begitu masuk pertama ada papan LED isinya jadwal keberangkatan bis, informasi gate, berapa menit lagi, bahkan informasi jika ada delay, persis kayak papan boarding yang ada di airport.

Di masing-masing gate, ada layar LCD lagi, yang ini sudah difilter hanya bis yang berangkat dari gate tersebut saja. Hihi, mungkin norak, tapi saya terkesan dengan TBS ini. Bersih, rapih, luas, informatif.

Perjalanan ke malaka ini kurang lebih 3.5 jam, sampai di malaka matahari lagi lucu-lucunya. Panas banget. Kami turun di malaka sentral, terminal ini juga terpadu dengan mall macam ITC. Nah, di malaka ini kami bukan merasa lagi di.malaysia, tapi di Tegal!! saking seringnya denger orang ngobrol dengan logat ngapak, hehehe.

Tujuan kami pusat touristy malaka, yang terkenal dengan gedung tuanya sisa peradaban pelabuhan. Malaysia sendiri menyebut malaka sebagai kota sejarah. Awalnya agak bingung harus naik bis yang mana, karena kami tidak tahu apa nama daerahnya. Sempat melihat rombongan backpacker bule, kami sudah menduga bakal sama nih tujuannya. Tapi ya daripada tersesat, kami bertanya untuk memastikan.

Wuih bis jurusan ini penuh banget, persis kayak transjakarta gitu berjejal sampai tidak ada ruang lagi, mungkin karena hari libur. Sesudah melewati beberapa daerah, penduduk lokal mulai turun, dan agak sedikit longgar. Eh, tapi mulai macet. Jalannya tidak terlalu lebar, cuma cukup untuk satu mobil saja. Terus begitu sampai kami turun di gereja merah.

Di malaka kami berputar-putar saja, sejauh kaki mau diajak melangkah. Sebelumnya kami mencicipi es cendol ala malaysia, entah saya lupa namanya, lumayanlah menunda lapar dan menghibur di tengah siang bolong.

Di malaka ini memang terkenal dengan bangunan tuanya. Spot-spot di pinggir sungai dan pelabuhannya buat saya keren, membayangkan suasananya di malam hari bikin pengen ngerasain rasanya bermalam di malaka. Bangunan tua di chinatownnya juga menyenangkan untuk diperhatikan tiap detailnya. Terlihat masih terawat.

Sebenarnya belum bosan menjamah malaka, tapi waktu terus berjalan, mengingat masih ada agenda malam hari di KL, kami memutuskan untuk segera kembali. Sampai di malaka sentral, kami makan dulu, putar-putar sebentar mencari abaya melayu titipan bu boss si sohib, hehehe. Dan saat kembali ke loket bis, barulah kepanikan dimulai. Di malaka sentral ini, masih beda loket beda bis. Awalnya kami hanya melihat dari papan jadwal, mencari yang paling dekat waktunya. Eh begitu tanya, semua jadwal ke KL hari itu sudah habis. Kami benar-benar mengelilingi semua loket, dan semuanya sold out. Pilihannya naik.taxi atau naik bis tapi besok pagi. Tarif taxi yang biasanya sekitar 150 RM, (tertulis harganya di depan loket taxi antarnegeri) sore itu tarifnya menjadi 200 RM, tidak bisa ditawar. Hah, kami memilih naik taxi saja. Sempat teride untuk cari penumpang lain, supaya bisa share budget. Soalnya ketika berburu tiket bis juga banyak yang kebingungan karena kehabisan tiket. Huff, tapi tentunya nggak gampang, padahal waktu makin mepet, perkiraan para supir taxi itu paling cepat 5 jam, baru sampai KL. Glek, ya sudahlah menyerah sebelum mencari penumpang tandem. Dan benarlah untuk keluar malaka macetnya luar biasa, persis kayak bandung-jakarta kalau habis long weekend. Aiiihh, ternyata sama aja yaaaa…

Di tengah perjalanan kami mampir ke rest area, memenuhi panggilan alam, sekitar maghrib, wuih antriannya mengular. Iseng nguping ada yang bertanya dengan petugas kebersihan toilet umum di situ, hari ini memang macetnya lebih parah dari biasanya. Tapi mampir di rest area ini cukup menghibur. Karena pas matahari terbenam, dan banyak banget burung berterbangan dan bertengger di pohon di area situ, lengkap dengan kicaunya yang berisik banget.

Selama perjalanan, ac mobil tidak dijalanakan, entah karena memang rusak atau untuk menghemat tenaga mobil. Jadilah sepanjang jalan di buka jendelanya, saya yang tidak kuat angin, sibuk cari posisi biar tidak langsung kena hembusan angin. Kondisi sohib lebih kacau lagi, efek supply minum kurang, mulai mabuk darat.

Dealnya, kami minta diantar ke central market, ceritanya mau belanja oleh-oleh. Mengingat waktu dan kondisi fisik si sohib , kami minta langsung diantar ke hotel saja, tp si sopir taxi ini tidak bersedia, karena lokasinya lebih jauh lagi. Ah ya sudahlah, nanti langsung lanjut naik taxi (lagi).

dan setelah berkendaraan 6 jam, kami baru sampai di central market. Sempat melewati petailing street sih, pusat shopping juga, ah, tapi untuk mengajak si sohib rasanya tidak tega. Begitu turun, langsung cari taksi lagi, tawar menawar sebentar, baru kami kembali ke hotel, tapi kami sempatkan jajan air putih dan mie instan, buat pengganjal perut malam itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s