Menonton Pentas Akhir Tahun Ponakan

Weekend lalu saya menonton pentas akhir tahun keponakan yang memang diadakan tiap tahun oleh sekolahnya. Setiap tahunnya menawarkan tema yang berbeda dan bertujuan mengenalkan budaya. Tahun ini Proyeknya dibuat menjadi satu pertunjukkan kolosal yang melibatkan satu angkatan.

Menonton pertunjukkan seperti ini memang selalu menyenangkan buat saya, apalagi yang memerankannya masih bocah-bocah lucu. Tak jarang kadang saya sampai terbawa emosi haru melihat pertunjukkan seperti ini. Ah ya, saya memang terlalu sentimentil untuk urusan macam ini.

Dan beginilah pertunjukannya….

(ps… dialog dan narasi tidak sama persis sih, ini hanya bernada mirip)

Pertunjukan kolosal ponakan ini berjudul “Bukan (Hanya) Gajah Mada”. Ceritanya memang diadaptasi dari kisah Gajah Mada dengan sumpah palapanya. Tentunya dengan perubahan sana sini, sang tokoh utama diberi nama Gajah Mede – sang penjual kacang mede. Pertunjukan dibuka dengan VC kutipan sumpah palapa yang diucap Gajah Mada masih dalam bahasa Sansekerta kemudian dilanjutkan dengan kutipan Al-Quran Surah Al-Baqarah : 164

Kemudian, muncul tokoh utama yang kemudian diceritakan sedang beristirahat setelah lelah melakukan perjalanan, kemudian muncul pemain-pemain lain dengan 4 baju daerah berbeda. Mereka dengan tarian yang menggambarkan seolah sedang bertengkar satu sama lain. Mereka saling olok dan hanya membanggakan suku masing-masing. Kemudian Gajah Mede menantang masing-masing untuk menunjukkan tarian masing-masing daerah. Setelah tinggal sendiri, Gajah Mede bersumpah sebelum bisa berhasil menyatukan dan mendamaikan saudara sebangsanya dia tidak akan makan Kacang Mede – makanan favoritnya (yah namanya juga pertunjukkan bocah – *smirk*)

Penampilan pertama adalah tarian kipas dari Sulawesi Selatan. Tarian ini membutuhkan koordinasi yang kompak antara penari-penarinya. Tarian ini menggambarkan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain dan saling berlaku lemah lembut. Dan lalu Gajah Mede pun berkomentar, “lalu mengapa kalian justru bertengkar dan berlaku kasar?”

Tarian kedua adalah tari Badindin dari Sumatera Barat. Tarian ini awal mulanya adalah bentuk dakwah islam dengan melagamkan sholawat atau kalimat-kalimat ajakan untuk mengingat Sang Pencipta. Dan lalu Gajah Mede berkomentar, “jika tarian kalian saja mengajarkan akhlaq,  lalu mengapa kalian justru mengolok-olok dan bertengkar seperti kemarin?”

Tarian ketiga mewakili bagian timur Indonesia, Tari Kreasi Yamko Rambe Yamko. Tarian ini didominasi oleh gerakan menghentak-hentakkan kaki, menunjukkan kekuatan. Dan lalu Gajah Mede berkomentar, “tapi dengan gerakan seperti dan tanpa mengenai lainnya, sebenarnya menunjukkan kalau kalian adalah bangsa yang bertoleransi”

Tarian ke empat adalah Tari Tor Tor dari Sumatera Selatan. Tarian dengan gerakan yang sederhana, diiringi lagu yang meriah, membuat orang lain ikut bergabung menari bersama (menjelang akhir tarian memang ada penari yang turun panggung dan mengajak penonton ikut menari bersama). Dan lalu Gajah Mede berkomentar, “jika tarian kalian saja menunjukkan keramahan dan terbuka bagi orang lain, kenapa justru kalian bertengkar dengan orang lain?”

kolase PAT

Empat pertunjukkan tarian daerah

Di akhir cerita akhirnya mereka semua berdamai, saling menghargai dan menjadi Indonesia. Diwakili dengan tarian kreasi bertema nusantara, diiringi lagu “Inilah Negeriku – Dina Mariana”. Penari-penari ini menggunakan baju beragam daerah dari Sabang hingga Merauke. Berwarna-warni dan meriah. Suka!!

image

Flag performance


image

Aku cinta Indonesia


image

Closing - back sound "Cinta Negeriku by Chrisye"

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s