Cerita Si Tukang Sol Sepatu

Ilmu dan hikmah itu memang bisa didapat di mana saja, kapan saja – bahkan dari tukang sol sepatu keliling. Cerita ini saya tuturkan ulang dari cerita seorang teman tentang perbincangannya dengan seorang  tukang sol sepatu. Ceritanya mungkin tidak persis sama, tapi semoga tidak mengurangi esensinya.

tukang sol sepatu

Gambar diperoleh dari Thread Kaskus.co.id

 

Sambil menungguinya mengerjakan sol sepatu saya yang sudah rusak, saya memulai perbincangan dengan si Bapak Tua Tukang Sol Sepatu. Saya menaksir umurnya sekitar tujuhpuluhan.

“Asli dari mana Pak?”

“Oh saya asli dari Tasik” jawabnya singkat.

“Oh gitu ya Pak, masih suka pulang ke Tasik Pak?”

“Masih, seminggu sekali, kadang juga dua, tiga hari juga sudah pulang ke Tasik, biar ketemu sama anak-anak”

“Anak-anak berapa Pak?”

“Oh anak kandung sih dua, tapi anak angkat ada sembilan” jawabnya sambil terkekeh, matanya masih fokus mengerjakan sepatu saya.

“Banyak ya Pak?”

“Iya, biar gak sepi rumahnya. Kalau ada anak-anak jadi rame rumahnya”

 “Umur berapa pak?”

“Anak kandung saya sih udah besar-besar, sudah bekerja semua, Alhamdullilah… yang satu malah sudah diangkat jadi PNS, nah yang anak angkat ini macam-macam umurnya – yang paling besar mungkin sekitar 15 tahun, udah masuk STM pokoknya, yang paling kecil masih umur tujuh tahun” terlihat garis senyum di ujung bibirnya saat menceritakan anak-anaknya.

“Ooh, sekolah semua Pak?” saya tak sanggup menahan rasa penasaran saya

 “Iya, atuh. Dosa kalau nggak disekolahin mah” katanya sambil terkekeh, masih tanpa beban.

Cerita masih berlanjut, anak-anak angkat itu ada yang memang dititipkan oleh tetangganya atau warga kampung sekitar karena sudah tak sanggup lagi merawat anak. Semua cerita dari mulut si Bapak Tua baru meluncur kalau saya bertanya. Selebihnya Si Bapak Tua diam, memberikan perhatiannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Saat itu, teman saya bercerita dengan energi yang meluap-luap, betapa dia merasa tertampar dengan si Bapak Tua itu. Yang kemudian tamparan itu diteruskan pada saya. Dipikir-pikir, berapa sih penghasilan jadi tukang Sol Sepatu? Masih menanggung sembilan anak angkat yang semuanya dibiayai sekolahnya.

Betapa di usianya yang senja si Bapak Tua itu masih berusaha produktif. Lebih dari itu, terus berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya. Dan sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Lalu, pertanyaannya, sudahkah saya?

Iklan

One thought on “Cerita Si Tukang Sol Sepatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s