Cek Toko Sebelah setelah Hangout

hangout-vs-cts

foto diambil dari http://www.bioskoptoday.com

Ihiy, awal tahun ini yang menjadi film saya tonton di bioskop adalah dua film Indonesia yang dua-duanya merupakan film garapan komika Indonesia. Yang pertama adalah Hangout – garapannya Raditya Dika – dan disusul dengan “Cek Toko Sebelah” yang dikerjakan oleh Ernest.

Boleh kan ya, kalau kali ini saya pingin membandingkan dua film ini? Yaaa… memang dua film ini bukan film yang bisa dibilang apple to apple sih, karena genrenya yang berbeda, meski keduanya berbumbu komedi.

Hangout

hangout

Saya mulai dari Hangout dulu yaaa (sesuai urutan nontonnya). Jujur film ini saya tonton karena termakan testimony yang di-retweet oleh sang punya hajat, Raditya Dika. Ada yang bilang sepanjang nonton nggak berhenti ketawa, atau gara-gara GIFnya yg Dika buat karena filmnya sudah tembus 1jt penonton. Kan jadi penasaran.

Well, film ini mengusung genre thriller-comedy. Hangout cerita tentang sekelompok orang yang diundang ke pulau terpencil oleh seorang misterius, kemudian satu per satu tewas terbunuh. Alur dirancang untuk membuat penonton penasaran sekaligus menebak siapakah pelaku pembunuhan tersebut.

Sayangnya, buat saya film ini cenderung biasa aja (saya tidak sampai hati bilang buruk). Komedi yang harusnya jadi daya jual seorang komika pembesutnya, terkesan dipaksakan, garing dan slapstick. Tidak ada yang hingga membuat saya terpingkal saat menontonnya, cuma sebatas tersenyum, bahkan terkadang senyumnya bernada sinis.

Oh, oh, tapi bukan itu bagian terburuknya menurut saya, karena saya memang tidak terlalu banyak menaruh ekspetasi pada film komedi Indonesia. Hal yang justru membuat saya memberi nilai minus pada film ini adalah pilihan Dika untuk tetap menggunakan nama asli pemeran sebagai nama karakter tokohnya. Bahkan dengan detail karakter yang mendukung, misalnya disebutkan Titi Kamal memerankan film AADC, atau Prilly ditanya kabarnya Alliando. Tapi, kemudian tokoh-tokoh itu mengalami kejadian yang cukup sensitif dan tidak menarik untuk dibuat lelucon. Hal paling ekstrim adalah membuat para karakter itu mati. Buat saya itu seperti mendoakan sang punya nama, mati, dan itu mengganggu. So overall, saya merasa salah pilih film.

Cek Toko Sebelah

cts

Nah film ini, yang bikin iseng nonton adalah bertaburnya komika-komika stand up comedy. Belum lagi ditambah pemeran sang Ayah, yang saya kenal bermain di film “My Stupid Boss” sebagai pemeran yang actingnya paling oke di film itu. Oh iya dan jangan lupa, ada anak presiden main juga sebagai cameo. Intinya, saya tertarik nonton film ini justru karena pemain-pemainnya.

“Cek Toko Sebelah” adalah film dengan genre Drama-Comedy. Bercerita tentang keluarga Tionghoa, di mana sang Ayah sudah mulai rapuh dan ingin toko sembako diteruskan oleh anak bungsunya yang sebenarnya sudah sukses berkarir di bidang lain, padahal ada anak pertamanya, namun sepertinya sang Ayah kurang mempercayainya. Di sisi lain, ada perusahaan properti yang sangat berniat membeli lahan tempat toko itu berdiri.

Dan saya suka film ini! Komedinya cukup mengena buat saya, tidak terlalu berlebihan dan berhasil bikin terpingkal, ya satu dua gagal bikin ketawa juga ada sih. Slaptics? Masih ada sih, tapi pilihannya pas banget, dan bukan jadi komponen utamanya. Yang paling saya suka adalah detail-detail plesetan merek yang padahal belum tentu kebaca juga sama penonton, tapi kalau diperhatikan hampir semua merek diplesetkan, kecuali satu merek, yang sepertinya menjadi sponsor film ini.

Dari informasi teman juga, bagaimana detail kehidupan keluarga Tionghoa juga disajikan dengan pas. Sesuai dengan kehidupan sebenarnya. Yaa, wajarlah ya, penulis skripnya kan memang seorang Tionghoa. Meski dari segi cerita masih ada beberapa hal yang masih menjadi nilai minus dan bisa dibuat lebih kuat lagi karakaternya. Tapi beberapa nilai minus itu bisa diseimbangkan dengan eksekusi detail pada film ini, dan berhasil bikin saya tersenyum puas keluar dari teater. Mungkin film ini bukan masuk kategori wajib ditonton sih, tapi sudah masuk list rekomendasi untuk ditonton.

By the way…
setelah ngobrol-ngobrol sama sepupu yang jarak umurnya cukup jauh, dia ternyata lebih pilih “Hangout”. Jadi saya pikir memang penilaiannya balik lagi soal selera, dan sepertinya usia juga mempengaruhi selera.

Lalu, kamu sudah nonton dua film ini? Apa komentarmu?

 

Iklan

4 thoughts on “Cek Toko Sebelah setelah Hangout

  1. Ah, seneng ada yg review cek toko sebelah.
    Suka banget sama film ini, semata-mata nonton karena bosen, no pretentious no expectation, tapi aseli sukak

    style stand upnya personal comica masih masuk, dan khas banget sama style stand up nya Ernest. Satir nyentil melintir

  2. Baru nonton CTS dan sukaaa, tapi aku kayanya juga ga bakal doyan sama Hangout karena dari dulu ga bisa menikmati komedi ala Raditya DIka :’) *no offense ya buat fansnya hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s