Ulas buku: It’s A Cloud with Legs

Apa yang pertama kali tercetus di kepalamu saat membaca judul novel yang diterbitkan secara self publishing ini; It’s a Cloud with Legs?

iawcl-review-rectangle

“Kamu harus sadar, satu jawaban menyimpan seribu pertanyaan lainnya.” (hal. 73)

Buat saya, judul itu terkesan unik cenderung absurd. Gambar ilustrasi awan putih yang berkaki pada cover ini langsung mengingatkan saya pada kartun “The Amazing World of Gumball“. Hal ini membuat saya berpikir bahwa cerita ini adalah cerita yang jenaka atau konyol, persis seperti film itu. Lalu benarkah?

iuef-blog-title

Saya tidak akan bilang kalau tebakan itu salah, walau juga tidak 100% benar. Memang isinya cerita tentang kekonyolan semasa SMA. Tapi cerita ini dibuat bukan untuk buku humor, lebih seperti drama sebenarnya.

Novel ini bercerita tentang Enzi Fadel, sang tokoh “aku”, yang harus masuk ke sekolah asrama. Di asrama inilah Enzi berkenalan dengan Olly Agneta, yang justru menjadi Ruh utama novel ini. Dimulai dari sebuah kabar yang mengingatkan Enzi pada sosok Olly. kemudian seperti film, segala hal tentang kisah lalunya bersama Olly Agneta, diputar ulang. Mulai dari perkenalan yang aneh, masa-masa pertemanan yang dibumbui dengan kenakalan remaja, dan jatuh cinta, hingga akhirnya Olly hilang dari kehidupan Enzi.

Ditulis dengan gaya bahasa yang ngepop, membuat novel ini terasa seperti novel terjemahan. Sepetinya banyak terpengaruh oleh novel-novel favoritnya. Tapi saya bisa bilang, begitulah khas tulisannya Reza, si penulis.  Selain pengaruh gaya bahasanya, pemberian nama dan cerita pergaulan dalam cerita ini membuat saya semakin sulit membayangkan bahwa cerita ini bersetting di Indonesia, meski jelas-jelas di awal cerita dituliskan lokasi asrama ini berada di ibukota Indonesa bagian barat.

Jujur, di awal cerita saya kesulitan menemukan hal yang membuat saya tune in dengan ceritanya. Butuh usaha ekstra buat saya untuk terus membaca cerita ini. Saya baru mulai menemukan keseruan cerita ini di akhir bab tiga. Tapi kemudian selanjutnya, saya terus dikejutkan dengan plot yang sama sekali tidak bisa ditebak. Saya merasa benar-benar menjadi Enzi, tertipu oleh Olly. Dan itu hebat menurut saya.

Belum lagi, ditambah penulis juga menyelipkan ide-ide filosofis, menjadikan novel ini menjadi cukup padat dan berisi. Misalnya saat Enzi dan Olly menjalani hukuman menjaga Biksuni selama seharian, terselip obrolan yang membahas soal pilihan perempuan tua itu menjadi sorang biksuni, atau tentang bagaimana pendapat sang biksuni tentang awan. Bahkan cerita ini akhirnya ditutup dengan gagasan Enzi soal awan dengan kaki, yang juga sangat filosofis.

Kadang-kadang saya sampai berpikir, obrolan dengan metafora-metafora filosofis seperti itu terlalu berat untuk diucapkan seorang anak SMA. Tapi di lain sisi, kadang tokoh-tokoh ini terlihat seperti kekanak-kanakan. Tapi bukankah justru itu memang menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi seorang remaja yang beranjak dewasa?

Sedikit lagi catatan dari saya. Di akhir cerita, saya justru menemukan kelemahan prolog buku ini. Saya merasa kalimat yang diajukan di Prolog kurang tepat. Pada akhir cerita ini justru sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang muncul di Prolog. Padahal akhir cerita yang dibuat sudah sangat pas untuk menutup cerita ini, jadi kupikir yang bisa diperbaiki adalah prolognya.

So, overall, saya cuma mau bilang:  “It’s quite entertaining to read this book. Great Job, Za!”


iacwl-review-square 

Judul Buku: It’s a Cloud with Legs
Penulis : Reza
Jumlah halaman : 225 hal.
Self-Publishing via Nulisbuku.com

P.S:
Setelah beres ngedrafting tulisan di atas, terus lanjut nonton Trolls. Eh, ada si Cloud Guy. Hmm, jangan-jangan Olly Agneta memang benar adanya dan ikut terlibat dalam pembuatan film Trolls?

cloud-guy-troll

Ada kaitannya dengan Olly Agneta?

Iklan

2 thoughts on “Ulas buku: It’s A Cloud with Legs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s