La La Land : A rat-tat-tat on my heart

Beberapa hari lalu, berita dunia entertaintement heboh setelah drama salah sebut di ajang piala Oscar. “La La Land” sempat diumumkan sebagai peraih Film Terbaik di ajang film paling bergengsi itu. Di tengah-tengah pidato kemenangan, kemudian diralat bahwa sebenarnya justru “Moonlight” yang meraih penghargaan tersebut. Whatta a drama!

La La Land

Terlepas dari drama itu, “La La Land” tetap tampil gemilang dengan berhasil memboyong 6 piala Oscar. Nggak heran sih, film itu memang bagus, setidaknya sih menurut saya. Sejak awal film ini banyak menuai testimoni positif di timeline media sosial dan berhasil bikin saya penasaran setengah mati .

Buat saya “La La Land” itu seperti rangkuman hal-hal yang saya suka; drama musical, jazz, piano intrumentalia, tari-tarian dengan koreografi yang pas, bahkan sampai ada planetarium juga. Sepanjang menonton film ini saya nggak bisa berhenti tersenyum lho! Film ini bahkan berhasil membuat saya menonton dua kali, yang pertama saya membiarkan diri saya larut menikmati film ini, dan kedua kali untuk menonton lebih detail demi tujuan mereview film ini. Eh, kalau saya baru review sekarang nggak basi-basi amat kan ya? Iyain aja deh…

(ups sebelum membaca lebih lanjut saya ingatkan kalau tulisan berikutnya sangat mengandung spoiler, buat yang belum nonton dan nggak suka spoiler, mending sana gih nonton dulu, hehehehe)

What’s the plus poin?

Namanya juga film musical ya? Tentunya yang salah satu kekuatannya adalah lagu-lagunya.  Nggak heran kalau kemudian, Piala Oscar di dua kategori, Best Original Score dan Best Original Song disabet oleh “La La Land”. Di telinga saya, arrasementnya dibuat seperti saling berhubungan. Ada beberapa not-not yang mirip antara satu lagu dengan lagu lainnya.

Hmm, saya juga suka banget bagaimana alur cerita ini dibuat, dimulai dari perkenalan tokoh Mia yang sangat memimpikan menjadi aktris, sampai pada pertemuannya dengan Sebastian. Kemudian alur mundur sedikit untuk gentian mengenalkan tokoh Sebastian yang justru bermimpi memilik klub jazz sendiri. Selanjutnya alur bergerak maju dengan manis layaknya drama pada umumnya.

Banyak yang bilang baper setelah nonton film ini, karena untuk ukuran cerita romance, film ini berakhir sad ending. Hei, tapi buat saya film ini tetap happy ending, karena masing-masing tokoh akhirnya berhasil meraih mimpinya masing-masing. Happy ending ini dilukiskan lewat senyum keduanya di akhir scene.  Apalagi  setelah ekspresi keduanya setelah sekian lama ngga ketemu.

Tapi saya juga nggak mau bilang kalau saya nggak baper juga sih.  Baper ini disponsori oleh epilog yang menceritakan ulang seluruh adegan dalam “La La Land” dalam versi yang to good to be true. Hmm, mungkin ini kenapa salah seorang teman menyebut film ini sebagai film yang realistis, bahwa kadang hidup memang tidak selalu berjalan seperti yang diinginkan. Tidak segala yang diinginkan harus tercapai semuanya.

What’s not going right?

Tak ada gading yng tak retak. Ada beberapa hal yang menurut saya kurang pas, dan membuat ekspektasi saya terhadap film ini yang terlanjur dipatok tinggi menjadi sedikit meleset. Misalnya saat Sebastian dan Mia sedang menari dengan sepatu tap, namun iringan lagunya justru membuat suara hentakan kaki kurang terdengar. Jadi rasanya detail sepatu tap menjadi percuma.

La La Land - city of star 1Ada lagi yang mengganjal, yakni penanda musim yang dalam bayangan saya yang belum pernah mendatangi negara dengan empat musim menjadi tidak terlihat perbedaan antara winter, summer, dan fall. Entah dari setting background sampai pemilihan wardrobe, buat saya terlihat terlalu mirip. Akhirnya buat saya penanda musim ini hanya sebagai penanda waktu saja, tidak lebih, bahwa cerita Sebastian dan Mia ini hanya berlangsung kurang dari satu tahun, tapi cukup memberikan kesan yang signifikan dalam kehidupan dan impian keduanya.

But, however….

Buat saya itu hanya cacat super minor yang tidak berpengaruh pada esensi ceritanya. Saya masih tetap jatuh cinta pada “La La Land”, seriously, make A Rat-tat-tat on my heart…

kamu, sudah nonton?

 

Iklan

4 thoughts on “La La Land : A rat-tat-tat on my heart

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s