Perhitungan manusia versus ALLAH SWT

Stephen Hawking Died - renungan - iuef.wordpress

Di tengah diskusi kerjaan, kemudian ada breaking news, “Stephen Hawking Meninggal Dunia”

Well, saya bukan penggemar ilmu sains. Saya juga tidak mengenal banyak tentang teori-teori yang diutarakan Stephen Hawking. Hanya dari film “A Theory of Everything”, saya baru mengintip cerita hidupnya. Film yang ternyata diangkat dari buku memoar yang ditulis oleh mantan istri pertamanya. Jadi berita tadi hanya ditanggapi biasa saja oleh saya.

Berbeda dengan reaksi teman saya, yang secara spontan bilang, “Akhirnya…, setelah sekian lama”. Eh, tapi ini dalam bukan dalam konteks mensyukuri beliau meninggal ya! Tapi sebaliknya seperti melihat kebebasan setelah terkungkung dalam ketidakberdayaan.

Seperti yang kita tahu, Stephen Hawking telah lama menderita ALS, penyakit syaraf degeneratif yang menyebabkan kelumpuhan. Mendiang Stephen Hawking juga didiagnosis penyakit motor neuron, bahkan karena sakitnya yang ini, pada tahun 1963, beliau divonis hidupnya hanya sekitar dua tahun lagi. Tapi, siapalah dokter, yang notabene hanya manusia? Umur itu adalah hak prerogatif Allah. Nyatanya hingga lebih dari 50 tahun, Stephen Hawking belum kehilangan nafasnya, bahkan masih berkarya dengan segala disabilitas yang disandangnya. Di situ saya merasa kagum, meski di sisi lain menyayangkan keputusannya dalam melihat Sang Pemberi Hidup. Buat saya, semacam ironi.

Oh, cerita tentang hitungan manusia versus kehendak Allah, saya masih menyimpan satu cerita lagi, bahkan kali ini dekat sekali. Ini cerita kakek saya. Beliau pernah suatu kali divonis bahwa usianya mungkin hanya bertahan tiga bulan, karena sakit yang menyerang hatinya. Tapi beliau tidak pernah kehilangan semangat, tetap terus berikhtiar dan juga tak kalah aktif berbuat untuk sesama serta memberi inspirasi. Menjalani hidup dengan ikhlas “Lillahi Ta’ala”.

“Hidup saya ini milik Allah, jadi ya terserah Allah saja kapan mau memanggil saya”

Begitu tiap kali kondisinya ngedrop, lalu dokter-dokternya hanya bisa menghitung dari ilmu manusia. Kuasa Allah kemudian yang membuatnya bertahan tujuh belas tahun. Awal tahun ini, Allah memanggilnya pulang. Atas segala yang dikerjakannya dalam organisasi keislaman dan pendidikan, membuat jumlah pelayat membludak ingin mensholatkan beliau. Semoga husnul khotimah. (Bahkan saat menuliskan ini, saya kembali merinding)

Dokter-dokter yang menananginya, semua melihatnya sebagai mukjizat, karena secara ilmu kedokteran, hampir tidak mungkin manusia bertahan hidup hanya dari 10% fungsi hati, tanpa transpalansi. Tapi nyatanya ada.

Tentu masih banyak cerita lain, bahwa Allah memiliki perhitungannya sendiri. Kamu punya? Share di komentar dong..

Iklan

Satu respons untuk “Perhitungan manusia versus ALLAH SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s