Sabtu Seru Belajar Foto Produk Pakai Ponsel

Jadi, akhir maret lalu saya mengikuti smartphone photography workshop bareng Mbak Ariana di Depok. Sudah lama memang, ngintipin jadwal kelas Mbak Ariana. Nah, mumpung waktunya pas dan lokasinya masih sanggup diarungi pake gojek (walau ternyata lebih jauh dari yang saya bayangin) saya memutuskan untuk ikut kelasnya.
Acara workshop dimulai dengan cuap-cuap Mbak Ariana berbagi ilmu fotografinya yang dipelajarinya secara otodidak. Cara menyampaikan materinya ringan dan seru, tidak ada istilah-istilah jelimet yang berbau teknis kamera. Namanya juga pelatihan memanfaatkan ponsel, bukan kelas fotografi professional. Eits, tapi meski cuma bermodalkan ponsel bukan berarti hasil fotonya nggak maksimal. Asal perhatikan beberapa poin penting berikut ini:

Baca lebih lanjut

Iklan

Adakah aku?

Tulisan ini dibuat dalam rangka menyemarakkan tantangan menulis harian oleh Storial.Co (storialpicstorychallenge). Tema untuk tulisan ini adalah malaikat, dan tulisan harus berbentuk puisi, tanpa menyebut kata malaikat di dalamnya

Adalah dia yang menyuruh kekasihNya untuk membaca. 

Adakah aku mengimaninya dan mengamalkan yang telah disampaikan melaluinya?

.

Adalah dia yang membagikan rezeki sesuai haknya.

Adakah aku mengimaninya,  menjemputnya dengan cara terbaik?

.

Adalah dia si teliti yang berdiri di kananku.

Adakah aku mengimaninya dan memberinya sebanyak-banyaknya hal baik untuk dicatatnya?

.

Adalah dia yang tak kalah teliti memperhatikan keburukanku.

Adakah aku mengimaninya atau justru membiarkan catatannya terus memanjang?

.

Adalah dia yang pasti suatu saat menemuiku tanpa bisa menghindarinya.

Adakah aku mengimaninya, bersiap sebaik mungkin menunggu jemputannya?

.

Adalah dia dan dia yang akan datang dengan segala tanya.

Adakah aku mengimaninya hingga mampu memberi jawab terbaik?

.

Adalah dia yang akan menjadi penanda kehancuran dan kebangkitan.

Adakah aku mengimaninya dan masih sanggup tegar berdiri saat tiupan ketiganya berbunyi?

.

Adalah dia yang kutakutkan akan menjagaku tetap berada dalam nyala.

Adakah aku mengimaninya atau membiarkan api menjilati seluruhku?

.

Adalah dia sang pengawal istana sempurna bertelekan permadani sutera yang kurindukan.

Adakah aku mengimaninya, berbuat semampuku agar pantas menuntaskan rindu?

.

Adalah aku yang mengaku beriman.

Tapi…

Adakah aku benar-benar?

.

(komentar penulis: entah bisa disebut puisi atau tidak, sungguh aku tak ahli, tapi gatel pengen ikut meramaikan spsc ini. Happy poetry day anyway)

21 maret 2017

La La Land : A rat-tat-tat on my heart

Beberapa hari lalu, berita dunia entertaintement heboh setelah drama salah sebut di ajang piala Oscar. “La La Land” sempat diumumkan sebagai peraih Film Terbaik di ajang film paling bergengsi itu. Di tengah-tengah pidato kemenangan, kemudian diralat bahwa sebenarnya justru “Moonlight” yang meraih penghargaan tersebut. Whatta a drama!

La La Land

Terlepas dari drama itu, “La La Land” tetap tampil gemilang dengan berhasil memboyong 6 piala Oscar. Nggak heran sih, film itu memang bagus, setidaknya sih menurut saya. Sejak awal film ini banyak menuai testimoni positif di timeline media sosial dan berhasil bikin saya penasaran setengah mati .

Buat saya “La La Land” itu seperti rangkuman hal-hal yang saya suka; drama musical, jazz, piano intrumentalia, tari-tarian dengan koreografi yang pas, bahkan sampai ada planetarium juga. Sepanjang menonton film ini saya nggak bisa berhenti tersenyum lho! Film ini bahkan berhasil membuat saya menonton dua kali, yang pertama saya membiarkan diri saya larut menikmati film ini, dan kedua kali untuk menonton lebih detail demi tujuan mereview film ini. Eh, kalau saya baru review sekarang nggak basi-basi amat kan ya? Iyain aja deh…

(ups sebelum membaca lebih lanjut saya ingatkan kalau tulisan berikutnya sangat mengandung spoiler, buat yang belum nonton dan nggak suka spoiler, mending sana gih nonton dulu, hehehehe)
Baca lebih lanjut

Bergaya dengan Fashion Branded? Siapa Takut?

picture-taken-from-pixabay-com

Setuju nggak sih kalau lihat barang-barang fashion branded rasanya seperti terkena serangan asma? Nafas mendadak megap-megap. Saya sendiri sebenarnya bukan orang yang sangat memuja merek, tapi harus diakui seperti naluri kebanyakan perempuan lainnya, saat melihat koleksi barang-barang bermerek  ternama  itu, kadang bikin panas dingin. Mendadak berimajinasi, seolah barang-barang itu melambai-lambai minta dibawa pulang, persis kayak yang dirasakan oleh Rebecca Bloomwood.

Nah, berhubung sandang itu memang kebutuhan pokok, tapi membeli barang branded sudah masuk kategori tersier. Kan nggak lucu kalau tubuh kita dibalut dengan fashion branded tapi kemudian nggak bisa makan karena hutang melilit.

Jadi gimana dong, biar gak bisa tetap bernampilan superchic dengan fashion yang branded? Tentu selalu ada jalan ke Roma, kok!

  1. Menunggu Diskon.
    Periode tertentu biasa setiap brand mengadakan promo diskon, biasanya barang-barang lama. Beruntunglah saya yang bukan termasuk orang yang ngikutin trend. Masa bodo, kalau dibilang “so last year fashion”. Selama saya masih merasa nyaman dan terlihat seperti alien tersasar di tengah-tengah manusia, who care with trends.Oh, iya tapi tetap waspada yang dengan godaan discount ini, pastikan harganya tetap masuk akal bagi kesehatan dompetmu. Jangan sampai sebenarnya harga awalnya sudah di-markup terlebih dahulu. (duh iya, maaf saya orangnya memang curigaan)
  1. Berburu di Factory Outlet.
    Salah satu alasan kenapa barang branded itu harganya selangit, karena mereka juga mengkontrol kualitas dengan sangat ketat. Jahitan meleset setengah senti aja bisa mereka tolak. Nah barang-barang yang nggak lolos Q.C inilah biasanya yang dijual di Factory Outlet (F.O).  Lumayanlah, selama cacatnya masih minor dan tidak terlalu kentara, nggak masalah kan ya buat kita. Nah, sebagai gantinya saat berburu di F.O, kita juga jadi mesti teliti memeriksa kondisi barangnya.
  1. Beli barang preloved.
    Kenapa enggak beli barang preloved alias barang second? Opsi ini sudah banyak menjadi pilihan banyak orang. Tidak perlu dibayangkan harus memilih baju-baju bekas import di kawasan Senen. Sekarang banyak berseliweran di dunia online, orang-orang yang menjual koleksinya. Koleksi pribadi biasanya lebih dirawat dengan baik. Biasanya mereka menjual barang second melalui akun-akun media sosial seperti Instagram, Facebook, atau bahkan sengaja membuat akun di marketplace platform. Tinkerlust misalnya, yang bahkan sudah memposisikan sebagai “Indonesia’s Stylish Preloved Marketplace”.

    Beli barang preloved secara online begini, kita harus pastikan bahwa segala informasi yang dibutuhkan sudah diketahui, misalnya seperti ukuran, atau jenis bahan, jangan sampai terkecoh gambar. Jika memungkinkan lakukan tanya jawab dengan penjual mengenai alasan kenapa barang tersebut dijual atau mungkin menanyakan informasi detail lainnya. Hati-hati juga saat melakukan transaksi, tidak sedikit cerita tentang penipuan yang berkedok onlineshop. Membeli melalui marketplace biasanya lebih meminimalisir kejadian seperti itu.

Kamu punya trik lain untuk mendapatkan barang branded dengan harga yang lebih hemat? Share juga dong, please!

Cek Toko Sebelah setelah Hangout

hangout-vs-cts

foto diambil dari http://www.bioskoptoday.com

Ihiy, awal tahun ini yang menjadi film saya tonton di bioskop adalah dua film Indonesia yang dua-duanya merupakan film garapan komika Indonesia. Yang pertama adalah Hangout – garapannya Raditya Dika – dan disusul dengan “Cek Toko Sebelah” yang dikerjakan oleh Ernest.

Boleh kan ya, kalau kali ini saya pingin membandingkan dua film ini? Yaaa… memang dua film ini bukan film yang bisa dibilang apple to apple sih, karena genrenya yang berbeda, meski keduanya berbumbu komedi.

Baca lebih lanjut

Senja Pertama

Selamat Tahun Baru 2017 !

Biar sesuai sama momentumnya, postingan perdana tahun ini saya mulai dengan review buku Senja Pertama (ah meski akhirnya aku melewatkan senja satu januari untuk mempostingnya).

Buku ini adalah antologi cerpen karya Muhammad Ariqy Raihan. Ada 17 cerita pendek di dalamnya, dan dibuat saling berhubungan. Kalau diminta menilai buku ini dalam satu kata, maka saya akan memilih:

Manis

Diksi yang puitis khas Rere (panggilan akrab penulis) akan terus bertebaran sepanjang halaman buku. Buat saya pribadi, saking manisnya, cerita di dalamnya lebih menyenangkan untuk dibaca pelan-pelan, tidak langsung dihabiskan sekaligus. Ibaratnya bisa giung. 

Paling pas itu membacanya saat santai. Biarkan satu cerita dulu lumer, kemudian berikan jeda, baru kemudian baca lagi. Persis seperti menikmati cupcake di sore hari menjelang senja.
Sebagian besar cerita di buku ini pernah tayang di Storial, tempat pertama saya berkenalan dengan tulisan dan bahkan akhirnya dengan sang penulis. Meski baca berulang, saya tidak bosan membacanya. Saya memang suka dengan tulisan yang bergaya-gaya puitis. Meleleh. Bikin baper. 

“Bolehkah senyum yang dilukis gadis ini kuberi pigura dan kupajang di kamar tidurku?”

Meski sudah diterbitkan secara indi oleh Penerbit Orbit, beberapa potongan Senja Pertama masih bisa dibaca secara online di Storial . Anggap sebagai sampel, mungkin lama-lama jadi ketagihan juga terus pengen baca cerita lainnya.

Baiklah, plong rasanya sudah menuliskan tentang Senja Pertama di sini. Omong-omong penulisnya, baru aja melahirkan buku baru lagi. Masih berbau senja lagi. Kali ini berjudul “Lampion Senja”. Kayaknya peringatannya masih sama nih. Hati-Hati Romantis!

Kilas balik

Salah satu fitur yang ditawarkan di beberapa media sosial adalah kilasan balik tentang apa telah diunggah sebelumnya, biasanya hitungannya dalam tahun. Tujuannya tentu untuk mengingat, mengenang cerita lalu. 

Pun saya hari itu, sebuah notifikasi muncul. Isinya postingan saya setahun lalu. Otomatis ingatan saya memutar peristiwa pemicu postingan. Bukan cuma itu, kilasan balik itu juga memaksa otak saya untuk intropeksi diri. Meninjau ulang langkah selama satu tahun ini. Sudahkah maju, diam di tempat, atau mundur? Pertanyaan yang butuh keberanian dan kejujuran untuk menjawabnya.

Sedih adalah ketika jawabannya adalah masih diam di tempat. Lebih sedih lagi jika jawabannya justru mundur. Tapi yang paling sedih adalah ketika tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki alat ukurnya. 

Eits, tapi tidak, tidak, tidak boleh begitu. Kilas balik itu bukan untuk meratap, terjebak apalagi hanyut. Itu gagal move on namanya. Kalau memang diam di tempat ya maju, kalau mundur ya kejar, kalau belum ada tolok ukurnya buat! Jadi kalau suatu saat kilasan balik itu muncul lagi, kita bisa berbangga berhasil melewatinya.

#ntms 


Arisan

Dulu, pernah mendengar cerita tentang seorang suami yang melarang istrinya mengikuti arisan (meski tidak melarang si istri untuk datang dan berkumpul dengan teman-temannya). Alasannya karena hubungan antar anggota arisannya sudah tidak ada ikatan yang kuat, selain dulu anak-anaknya pernah bersekolah di tempat yang sama. Well, saat itu, saya tidak setuju, pikir saya saat iru “lho memangnya kenapa? kan justru untuk mempererat silahturahmi”

Sampai akhirnya beberapa bulan lalu saya yang mengalaminya sendiri,  arisan dengan teman-teman kantor yang sebagiannya sudah resign. Seperti halnya kebiasaan banyak hal di Indonesia, yang cuma semangat di awal aja, nasib arisan kami pun begitu. Sekali-dua kali bisa terselenggara meriah dan lancar jaya. Lama-lama, semangatnya melempem, mulai dari waktu penyelenggaraan yang terulur-ulur, sampai setoran uang arisan yang kadang telat bayar. Sampai puncaknya, ketika arisan yang tinggal beberapa putaran lagi sekaligus ditutup. Apalagi posisi saya saat itu sudah tidak bergabung lagi di kantor.

Drama “lepas-tangan” sampai drama penagihan sisa setoran arisan. Nyatanya memang tidak mudah menagih yang sebenarnya sudah jadi kewajiban masing-masing anggota untuk melunasi setoran arisan, padahal sudah diberi keringanan angsuran juga. Akhirnya urusan penutupan arisan ini baru benar-benar selesai beberapa bulan setelahnya.

Sedih sih, padahal awalnya arisan itu dicetuskan sebagai ajang silahturahmi meski sudah terpencar-pencar kerjanya.  Tapi, akhirnya malah berujung seperti itu, sempat jadi masalah yang bikin nggak nyaman. Dari pengalaman itu, saya baru bisa memahami alasan si suami yang memang logis.

Arisan itu ternyata nggak cuma soal kumpul-kumpul apalagi sekedar rumpi, tapi juga soal komitmen (ck, ck, dalem banget), ya namanya juga bersinggungan dengan uang. Oh, oh, saya juga bisa belajar mengenali karakter orang lain dari sudut lain ketika mengurusi Arisan ini, yang mungkin tak nampak hanya dengan interaksi biasa. Dipikir-pikir, arisan itu sebenarnya bentuk berorganisasi juga lho ya?

Sekian saja curcolnya. Hehehe..

Ender’s Game – Proses selalu lebih penting

Beberapa hari lalu saya baru saja Ender's Gamenonton film Ender’s Game. Film ini sebenarnya rilis tahun 2013, tapi saya sendiri baru ngeh ada film ini pas diputar di salah satu stasiun televisi swasta.

Film ini diangkat dari novel Orson Scott Card berjudul sama, bercerita tentang Ender Wiggin yang menjalani sekolah pelatihan perang. Sekolah ini diadakan untuk persiapan menghadapi perang melawan formics – alien yang telah menginvasi bumi. Meski formics telah berhasil terusir dari bumi, namun misi sekolah ini dibentuk untuk membasmi formics dari jagad raya selamanya untuk menghindari invasi Formics selanjutnya.

Ender diceritakan berhasil melewati serangkaian proses pelatihan dengan nilai tinggi, kemudian mendapatkan promosi dan memimpin armadanya sendiri. Hingga akhirnya dia harus menghadapi ujian kelulusan bersama timnya.

Well, Film ini mengalir sederhana dan ringan. hingga tontonan ini bisa dinikmati oleh anak-anak, meski tetap harus dengan pendampingan orang tua. Jangan berharap ada konflik yang complicated, mungkin untuk sebagian orang akan menganggapnya datar. Tapi yang membuat saya ingin menuliskannya adalah pesan yang disampaikan menjelang penghujung film. Yakni saat Ender merasa ditipu oleh sang perwira tinggi mengenai ujian kelulusannya, dan Ender mendebat sang perwira tinggi.

“No. It doesn’t important if we win. But the way we win it’s matters”

karena proses selalu menjadi bagian yang lebih penting dibandingkan hasilnya.

*noted. angguk-angguk setuju

Sudah pernah nonton film ini juga?