Sabtu Seru Belajar Foto Produk Pakai Ponsel

Jadi, akhir maret lalu saya mengikuti smartphone photography workshop bareng Mbak Ariana di Depok. Sudah lama memang, ngintipin jadwal kelas Mbak Ariana. Nah, mumpung waktunya pas dan lokasinya masih sanggup diarungi pake gojek (walau ternyata lebih jauh dari yang saya bayangin) saya memutuskan untuk ikut kelasnya.
Acara workshop dimulai dengan cuap-cuap Mbak Ariana berbagi ilmu fotografinya yang dipelajarinya secara otodidak. Cara menyampaikan materinya ringan dan seru, tidak ada istilah-istilah jelimet yang berbau teknis kamera. Namanya juga pelatihan memanfaatkan ponsel, bukan kelas fotografi professional. Eits, tapi meski cuma bermodalkan ponsel bukan berarti hasil fotonya nggak maksimal. Asal perhatikan beberapa poin penting berikut ini:

Baca lebih lanjut

Iklan

Bergaya dengan Fashion Branded? Siapa Takut?

picture-taken-from-pixabay-com

Setuju nggak sih kalau lihat barang-barang fashion branded rasanya seperti terkena serangan asma? Nafas mendadak megap-megap. Saya sendiri sebenarnya bukan orang yang sangat memuja merek, tapi harus diakui seperti naluri kebanyakan perempuan lainnya, saat melihat koleksi barang-barang bermerek  ternama  itu, kadang bikin panas dingin. Mendadak berimajinasi, seolah barang-barang itu melambai-lambai minta dibawa pulang, persis kayak yang dirasakan oleh Rebecca Bloomwood.

Nah, berhubung sandang itu memang kebutuhan pokok, tapi membeli barang branded sudah masuk kategori tersier. Kan nggak lucu kalau tubuh kita dibalut dengan fashion branded tapi kemudian nggak bisa makan karena hutang melilit.

Jadi gimana dong, biar gak bisa tetap bernampilan superchic dengan fashion yang branded? Tentu selalu ada jalan ke Roma, kok!

  1. Menunggu Diskon.
    Periode tertentu biasa setiap brand mengadakan promo diskon, biasanya barang-barang lama. Beruntunglah saya yang bukan termasuk orang yang ngikutin trend. Masa bodo, kalau dibilang “so last year fashion”. Selama saya masih merasa nyaman dan terlihat seperti alien tersasar di tengah-tengah manusia, who care with trends.Oh, iya tapi tetap waspada yang dengan godaan discount ini, pastikan harganya tetap masuk akal bagi kesehatan dompetmu. Jangan sampai sebenarnya harga awalnya sudah di-markup terlebih dahulu. (duh iya, maaf saya orangnya memang curigaan)
  1. Berburu di Factory Outlet.
    Salah satu alasan kenapa barang branded itu harganya selangit, karena mereka juga mengkontrol kualitas dengan sangat ketat. Jahitan meleset setengah senti aja bisa mereka tolak. Nah barang-barang yang nggak lolos Q.C inilah biasanya yang dijual di Factory Outlet (F.O).  Lumayanlah, selama cacatnya masih minor dan tidak terlalu kentara, nggak masalah kan ya buat kita. Nah, sebagai gantinya saat berburu di F.O, kita juga jadi mesti teliti memeriksa kondisi barangnya.
  1. Beli barang preloved.
    Kenapa enggak beli barang preloved alias barang second? Opsi ini sudah banyak menjadi pilihan banyak orang. Tidak perlu dibayangkan harus memilih baju-baju bekas import di kawasan Senen. Sekarang banyak berseliweran di dunia online, orang-orang yang menjual koleksinya. Koleksi pribadi biasanya lebih dirawat dengan baik. Biasanya mereka menjual barang second melalui akun-akun media sosial seperti Instagram, Facebook, atau bahkan sengaja membuat akun di marketplace platform. Tinkerlust misalnya, yang bahkan sudah memposisikan sebagai “Indonesia’s Stylish Preloved Marketplace”.

    Beli barang preloved secara online begini, kita harus pastikan bahwa segala informasi yang dibutuhkan sudah diketahui, misalnya seperti ukuran, atau jenis bahan, jangan sampai terkecoh gambar. Jika memungkinkan lakukan tanya jawab dengan penjual mengenai alasan kenapa barang tersebut dijual atau mungkin menanyakan informasi detail lainnya. Hati-hati juga saat melakukan transaksi, tidak sedikit cerita tentang penipuan yang berkedok onlineshop. Membeli melalui marketplace biasanya lebih meminimalisir kejadian seperti itu.

Kamu punya trik lain untuk mendapatkan barang branded dengan harga yang lebih hemat? Share juga dong, please!

Kilas balik

Salah satu fitur yang ditawarkan di beberapa media sosial adalah kilasan balik tentang apa telah diunggah sebelumnya, biasanya hitungannya dalam tahun. Tujuannya tentu untuk mengingat, mengenang cerita lalu. 

Pun saya hari itu, sebuah notifikasi muncul. Isinya postingan saya setahun lalu. Otomatis ingatan saya memutar peristiwa pemicu postingan. Bukan cuma itu, kilasan balik itu juga memaksa otak saya untuk intropeksi diri. Meninjau ulang langkah selama satu tahun ini. Sudahkah maju, diam di tempat, atau mundur? Pertanyaan yang butuh keberanian dan kejujuran untuk menjawabnya.

Sedih adalah ketika jawabannya adalah masih diam di tempat. Lebih sedih lagi jika jawabannya justru mundur. Tapi yang paling sedih adalah ketika tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki alat ukurnya. 

Eits, tapi tidak, tidak, tidak boleh begitu. Kilas balik itu bukan untuk meratap, terjebak apalagi hanyut. Itu gagal move on namanya. Kalau memang diam di tempat ya maju, kalau mundur ya kejar, kalau belum ada tolok ukurnya buat! Jadi kalau suatu saat kilasan balik itu muncul lagi, kita bisa berbangga berhasil melewatinya.

#ntms 


Arisan

Dulu, pernah mendengar cerita tentang seorang suami yang melarang istrinya mengikuti arisan (meski tidak melarang si istri untuk datang dan berkumpul dengan teman-temannya). Alasannya karena hubungan antar anggota arisannya sudah tidak ada ikatan yang kuat, selain dulu anak-anaknya pernah bersekolah di tempat yang sama. Well, saat itu, saya tidak setuju, pikir saya saat iru “lho memangnya kenapa? kan justru untuk mempererat silahturahmi”

Sampai akhirnya beberapa bulan lalu saya yang mengalaminya sendiri,  arisan dengan teman-teman kantor yang sebagiannya sudah resign. Seperti halnya kebiasaan banyak hal di Indonesia, yang cuma semangat di awal aja, nasib arisan kami pun begitu. Sekali-dua kali bisa terselenggara meriah dan lancar jaya. Lama-lama, semangatnya melempem, mulai dari waktu penyelenggaraan yang terulur-ulur, sampai setoran uang arisan yang kadang telat bayar. Sampai puncaknya, ketika arisan yang tinggal beberapa putaran lagi sekaligus ditutup. Apalagi posisi saya saat itu sudah tidak bergabung lagi di kantor.

Drama “lepas-tangan” sampai drama penagihan sisa setoran arisan. Nyatanya memang tidak mudah menagih yang sebenarnya sudah jadi kewajiban masing-masing anggota untuk melunasi setoran arisan, padahal sudah diberi keringanan angsuran juga. Akhirnya urusan penutupan arisan ini baru benar-benar selesai beberapa bulan setelahnya.

Sedih sih, padahal awalnya arisan itu dicetuskan sebagai ajang silahturahmi meski sudah terpencar-pencar kerjanya.  Tapi, akhirnya malah berujung seperti itu, sempat jadi masalah yang bikin nggak nyaman. Dari pengalaman itu, saya baru bisa memahami alasan si suami yang memang logis.

Arisan itu ternyata nggak cuma soal kumpul-kumpul apalagi sekedar rumpi, tapi juga soal komitmen (ck, ck, dalem banget), ya namanya juga bersinggungan dengan uang. Oh, oh, saya juga bisa belajar mengenali karakter orang lain dari sudut lain ketika mengurusi Arisan ini, yang mungkin tak nampak hanya dengan interaksi biasa. Dipikir-pikir, arisan itu sebenarnya bentuk berorganisasi juga lho ya?

Sekian saja curcolnya. Hehehe..

Hello June, Hello Ramadhan

Hehe, 🙂 iya ini sudah sedikit terlambat untuk menyapa keduanya.

Seminggu pertama bulan Juni sudah terlewati. Selama tujuh hari itu pun tidak satu pun hari berlalu tanpa disapa hujan, eh ya, setidaknya di kota tempatku tinggal. Entah, mungkin ia kini tak lagi cukup tabah untuk menutupi rintik rindunya. Atau mungkin tak lagi ragu menapakkan jejaknya di jalan-jalan.

Seperti yang selalu kupercaya, hujan adalah bentuk rahmat-Nya. Pun begitu dengan Hujan bulan Juni tahun ini, ia menyejukkan Ramadhan yang sudah datang sejak dua hari lalu.

Lalu sekali lagi…
Halo Juni – selamat datang
Halo Ramadhan – senang sekali bisa bertemu lagi denganmu

Cerita Si Tukang Sol Sepatu

Ilmu dan hikmah itu memang bisa didapat di mana saja, kapan saja – bahkan dari tukang sol sepatu keliling. Cerita ini saya tuturkan ulang dari cerita seorang teman tentang perbincangannya dengan seorang  tukang sol sepatu. Ceritanya mungkin tidak persis sama, tapi semoga tidak mengurangi esensinya. Baca lebih lanjut

Menjadi Kartini

Alih alih bikin tulisan baru malah cuma reblog tulisan lama… Ckckckck… *jitakkepalasendiri*

But anyway,
Selamat Hari Kartini!

Puzzle of Life

Yaya, saya telat ini sudah 25 April. Tapi saya rasa semangat Kartini nggak cuma muncul di tanggal 21 April saja kan? Jadi, selamat Hari Kartini.. (maksa.com)

Masih inget nggak sewaktu kecil untuk merayakan Hari Kartini, kita seringkali berfestival dengan pakaian daerah. Untuk di pulau Jawa, gadis cilik banyak yang menggunakan kebaya lengkap dengan sanggulnya, sebagaimana Kartini berdandan. Atau kadang diadakan lomba memasak, menjahit, merangkai bunga, dan lain-lain. Pernah suatu kali saya membaca komentar yang bernada skeptis. “Kenapa sih harus pake kebaya atau lomba masak? Bukankah itu justru melambangkan feodalisme, hal yang selama ini dilawan oleh Kartini” . Hehe, komentar tepatnya sih nggak seperti ini, lebih panjang dan lebih logis. Uh, maaf, saya memang sering terkena short-memory-syndrome.

Lihat pos aslinya 247 kata lagi

Menonton Pentas Akhir Tahun Ponakan

Weekend lalu saya menonton pentas akhir tahun keponakan yang memang diadakan tiap tahun oleh sekolahnya. Setiap tahunnya menawarkan tema yang berbeda dan bertujuan mengenalkan budaya. Tahun ini Proyeknya dibuat menjadi satu pertunjukkan kolosal yang melibatkan satu angkatan.

Menonton pertunjukkan seperti ini memang selalu menyenangkan buat saya, apalagi yang memerankannya masih bocah-bocah lucu. Tak jarang kadang saya sampai terbawa emosi haru melihat pertunjukkan seperti ini. Ah ya, saya memang terlalu sentimentil untuk urusan macam ini.
Baca lebih lanjut

[Kuliner] Bubur Ayam Kuah Rawon

Suka jajan bubur ayam? Biasanya bumbu bubur ayam memang tergantung khas daerahnya. Yang paling banyak saya temui di Jakarta ini adalah Bubur Ayam yang dibumbui kuah kuning plus kecap. Lalu jenis bubur ayam kedua yang sering saya makan, bubur ayam Bandung – biasanya buburnya hanya dibumbui kecap manis, kecap asin (itupun jarang saya tambahin, biasanya saya makan bubur ayam Bandung polos tanpa bumbu – palingan tambah merica aja)

Nah, pagi tadi saya menemukan bubur ayam jenis baru. Baca lebih lanjut