“pada akhirnya, menulis adalah proses belajar yang tidak pernah usai” – Dewi Lestari

View on Path

Iklan

pay it forward initiatives : I’m in

Beberapa minggu lalu saat saya berblogwalking ria ke sarangnya Ami, menemukan sesuatu yang menarik, “pay it forward initiatives”. Sebuah aksi yang tujuan utamanya untuk berbagi. Menarik buat saya, karena sudah lumayan lama, saya terakhir kali posting sesuatu yang berantai. Kalau dulu postingan berantai, biasanya karena didaulat oleh blogger lain meneruskan postingan, Tapi yang ini murni atas inisiatif si blogger

oke oke, terlalu banyak basa-basinya.

Jadi gimana sih aturan main “Pay it Forward Intiatives” ini?

Baca selebihnya »

Wakaf Sejuta Buku

Sharing is Caring

Angkasa13

20140201-054654.jpg

Hai hai temansss, yukss ikut berpartisipasi di program “Wakaf Sejuta Buku” yg diinisiasi oleh Komunitas Penggiat Baca dan Perpustakan “KEBUKIT” (Kelola Buku Kita). Program ini adalah program penghimpunan buku yg kemudian akan kami salurkan ke berbagai program, diantaranya :

– Perpustakaan Pedalaman : Distribusi dan penggiatan minat baca di wilayah wilayah pedalaman Nusantara

– Ruang Baca Kota : Pendirian perpustakaan dan komunitas untuk masyarakat marginal kota, seperti tukang ojeg, beca dan anak anak lapas

– Semesta Membaca : Penggitan baca untuk para mahasiswa dan pelajar

Nahhh… Info lengkap tentang program , sila kunjungi web kamii di www.kebukit.org

Terimakasihhhh …..😎😎😎

Lihat pos aslinya

2013 in review : raport merah

Sebenernya malu deh share rapor dari wordpress. Tapi sudah janji sama diri sendiri, apapun hasilnya nanti bakal tetep majang rapor dari wordpress. Hihi

Dan berikut rapor blogging 2013

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,500 times in 2013. If it were a cable car, it would take about 25 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Tentang hari ini : 28 November

image

Hari ini, tanggal ini, sebuah penanda hari seseorang yang begitu penting. Tidak banyak momen khas, interaksi intim, bersamanya. Tapi semuanya, setiap titiknya, menjadi cerita lalu yang membuat rindu. Juga sedikit penyesalan merasa belum banyak berbuat untuknya.

Tanggal ini kukenal sebagai hari lahirnya. Ingatan tentangnya menjadi berkali dari biasanya.

Baca selebihnya »

Virus vickysisasi

Hmmm, bukan, saya bukan mau membahas betapa lucunya pilihan kata yang diucapkan oleh vicky. Justru yang lebih menjadi perhatian saya adalah ternyata tidak sedikit orang di luar sana yang terangsang kreatifitasnya. Ada yang bikin postingan blog, seolah pembelaan vicky. Ada juga yang bikin akun twitter mengatasnamakan vicky dengan tata bahasa kurang lebih ala vicky. Bahkan ada yang serius bikin thread di kaskus, lengkap dengan tafsir kenapa pilihan “kata-kata” itu yang keluar dari mulut vicky. Saya salut.

Buat saya pribadi efek dari vickysisasi ini justru jadi sering memperhatikan pilihan kata-kata orang lain, bahkan diri saya sendiri. Dan sebenarnya, banyak juga lho yang sering memakai pilihan kata yang sebenarnya kurang pas. Sadar nggak sadar. Yaa bedanya mungkin bukan di depan media, dan dengan melakukan aksi ‘combo’ , berturut-turut sekaligus.

ah, rasanya jadi ingin berucap terima kasih buat vicky, yang membawa sedikit hiburan, menjadi pencetus inspirasi berkreasi, dan mengingatkan untuk tetap mengaca pada diri sendiri.

Warming Up : JUST WRITE DOWN! NO MATTER WHAT

Hiks, coba deh berapa lama dari postingan saya terakhir, baru sekarang akhirnya benar-benar posting lagi. Dan kali ini saya benar2 memaksa diri sendiri untuk nulis, sejadinya, entah bagus atau jelek hasilnya, entah penting atau enggak, tujuannya cuma satu : harus posting sesuatu, no matter what

well, beberapa hari ini, beberapa kali sudah siap menulis postingan. Beberapa pilihan ide tema tulisan berseliweran di otak. Tapi begitu buka notes, dan jari jemari sudah siap menari mengetik huruf demi huruf, mendadak otak blank, gagap menterjemahkan ide tadi. Baru ketik satu kalimat, berhenti lagi, hapus lagi, ketik ulang, ganti pilihan kata, berhenti lagi, dibaca ulang, nggak sreg lagi, hapus lagi, begitu seterusnya, sampai akhirnya memilih menyerah dan menutup notes.

buat saya itu berarti hiatusnya kelamaan. Padahal, saya percaya dan yakin kalau nulis itu, sama kayak yang lain cuma butuh proses, makin sering dilakukan akan semakin terasah. Satu-satunya cara untuk jadi seorang penulis, ya nulis.

ya,ya, tentunya juga jangan lupa ‘baca’. ‘Membaca’ itu proses paling pertama untuk nulis. Hehe seperti yang udah pernah saya tulis di postingan saya yang dulu. ‘Membaca’ itu bukan melulu soal membaca text. Gunakan semua indera – mata, telinga, hidung, lidah,bahkan hati – untuk ‘membaca’ dan menyerap sebanyak-banyaknya informasi sebagai bahan baku tulisan. Yang awalnya mungkin cuma bisa meracik tulisan dari beberapa bahan baku sederhana, lama-lama bakal lebih kompleks. 

Ups, kok kesannya jadi sok menggurui gini yah? Hehe, iya sih memang menggurui kok. Menggurui diri sendiri. Seperti yang saya bilang diawal postingan, tulisan ini saya biarkan mengalir apa adanya.. Yaaa, meski cuma jadi tulisan ‘begini doang’, tapi tetep lumayan surprise nih jari hampir nggak berhenti ngetik, dan akhirnya seperti ada suara yang bilang

“tuh kaan, jadi juga kan? Bisa kaan?”

so, mission accomplish.

Catatan Kecil pada Hardiknas

Teringat sebuah kejadian belasan tahun lalu, seorang ibu memeriksa hasil ulangan anaknya yang masih kelas 1 SD, yang hasilnya ada beberapa nomor yang dicoret karena jawabannya salah.

soal : “jika ingin membeli barang bekas ke ….. ”
Jawaban : BABE (nama toko yang memang menjual barang bekas layak pakai – saat itu memang sedang in, dan belum ada portal onlineshop macam bukalapak, OLX, tokopedia dkk)
Jawaban text book : pasar loak

Soal : “Di mana Ibu membeli seragam sekolahmu?”
jawaban : “Di sekolah” (sang ibu memang membeli seragam si anak di sekolah, karena seragam sekolah si anak memang khas)
Jawaban text book : toko baju

Sang Ibu sharing cerita seperti ini karena merasa suatu yang lucu. Semua jawaban si Anak tadi tidak salah sebenarnya karena sesuai dengan yang dia lihat, tapi menjadi kurang sesuai dengan text book.

catatan pentingnya adalah definisi soal benar salah. Jika sang anak menulis jawaban karena sesuai yang dia lihat, dan lantas dianggap salah, mungkin akan muncul pertanyaan otaknya siapa yang salah sebenarnya text book atau praktik yang dia lihat?

Saya sendiri menilai menjadi guru juga harua fleksible tidak terpaku pada textbook – toh ilmu itu selalu berkembang, ilmu juga bicara soal rasa bukan hanya hapalan dan eksak seperti satu di tambah satu.

Tapi ya ini sudah belasan tahun lalu, tapi tetap jadi catatan kecil.

Selamat Hari Pendidikan Nasional