La La Land : A rat-tat-tat on my heart

Beberapa hari lalu, berita dunia entertaintement heboh setelah drama salah sebut di ajang piala Oscar. “La La Land” sempat diumumkan sebagai peraih Film Terbaik di ajang film paling bergengsi itu. Di tengah-tengah pidato kemenangan, kemudian diralat bahwa sebenarnya justru “Moonlight” yang meraih penghargaan tersebut. Whatta a drama!

La La Land

Terlepas dari drama itu, “La La Land” tetap tampil gemilang dengan berhasil memboyong 6 piala Oscar. Nggak heran sih, film itu memang bagus, setidaknya sih menurut saya. Sejak awal film ini banyak menuai testimoni positif di timeline media sosial dan berhasil bikin saya penasaran setengah mati .

Buat saya “La La Land” itu seperti rangkuman hal-hal yang saya suka; drama musical, jazz, piano intrumentalia, tari-tarian dengan koreografi yang pas, bahkan sampai ada planetarium juga. Sepanjang menonton film ini saya nggak bisa berhenti tersenyum lho! Film ini bahkan berhasil membuat saya menonton dua kali, yang pertama saya membiarkan diri saya larut menikmati film ini, dan kedua kali untuk menonton lebih detail demi tujuan mereview film ini. Eh, kalau saya baru review sekarang nggak basi-basi amat kan ya? Iyain aja deh…

(ups sebelum membaca lebih lanjut saya ingatkan kalau tulisan berikutnya sangat mengandung spoiler, buat yang belum nonton dan nggak suka spoiler, mending sana gih nonton dulu, hehehehe)
Baca lebih lanjut

Iklan

Cek Toko Sebelah setelah Hangout

hangout-vs-cts

foto diambil dari http://www.bioskoptoday.com

Ihiy, awal tahun ini yang menjadi film saya tonton di bioskop adalah dua film Indonesia yang dua-duanya merupakan film garapan komika Indonesia. Yang pertama adalah Hangout – garapannya Raditya Dika – dan disusul dengan “Cek Toko Sebelah” yang dikerjakan oleh Ernest.

Boleh kan ya, kalau kali ini saya pingin membandingkan dua film ini? Yaaa… memang dua film ini bukan film yang bisa dibilang apple to apple sih, karena genrenya yang berbeda, meski keduanya berbumbu komedi.

Baca lebih lanjut

Ender’s Game – Proses selalu lebih penting

Beberapa hari lalu saya baru saja Ender's Gamenonton film Ender’s Game. Film ini sebenarnya rilis tahun 2013, tapi saya sendiri baru ngeh ada film ini pas diputar di salah satu stasiun televisi swasta.

Film ini diangkat dari novel Orson Scott Card berjudul sama, bercerita tentang Ender Wiggin yang menjalani sekolah pelatihan perang. Sekolah ini diadakan untuk persiapan menghadapi perang melawan formics – alien yang telah menginvasi bumi. Meski formics telah berhasil terusir dari bumi, namun misi sekolah ini dibentuk untuk membasmi formics dari jagad raya selamanya untuk menghindari invasi Formics selanjutnya.

Ender diceritakan berhasil melewati serangkaian proses pelatihan dengan nilai tinggi, kemudian mendapatkan promosi dan memimpin armadanya sendiri. Hingga akhirnya dia harus menghadapi ujian kelulusan bersama timnya.

Well, Film ini mengalir sederhana dan ringan. hingga tontonan ini bisa dinikmati oleh anak-anak, meski tetap harus dengan pendampingan orang tua. Jangan berharap ada konflik yang complicated, mungkin untuk sebagian orang akan menganggapnya datar. Tapi yang membuat saya ingin menuliskannya adalah pesan yang disampaikan menjelang penghujung film. Yakni saat Ender merasa ditipu oleh sang perwira tinggi mengenai ujian kelulusannya, dan Ender mendebat sang perwira tinggi.

“No. It doesn’t important if we win. But the way we win it’s matters”

karena proses selalu menjadi bagian yang lebih penting dibandingkan hasilnya.

*noted. angguk-angguk setuju

Sudah pernah nonton film ini juga?

Big Hero 6 : Bha… La.. La.. La..

image

iyaa, memang sedikit telat bikin review film Big Hero 6. Tapi rasanya seperti berhutang kalau tidak dituliskan.

Dan Lagi! Walt Disney berhasil memukau saya lewat Big Hero 6.

Emosi saya berhasil larut, tertawa liat Baymax yang menggemaskan, bahkan menangis di adegan-adegan haru. Setelah Brother Bear, ini adalah film animasi Walt Disney kedua yang bikin saya sesenggukan ketika nonton.

meski judulnya Big Hero 6 – tim yang terdiri dari hiro, baymax, gogo, wasabi, honey lemon, dan fred – tapi film ini lebih banyak berfokus pada hiro, si bocah genius, yang tergila-gila pada auto robot.

Saya suka cara si penulis menuturkan alur cerita, ya tentu simple karena anak-anak sasaran utamanya. Saya suka cara si penulis membawa emosi tentang kehilangan, tentang kemarahan, dan tentang keberanian. Suatu sisi yang manusiawi. yang baik tidak selalu baik, dan yang terlihat picik mungkin juga tidak sepicik yang diduga.

Dan yang paling saya suka adalah bagaimana boundaries yang terbentuk antara Hiro-Baymax-Tadashi (kakak Hiro).

hmm… ternyata Big Hero 6 terinspirasi dari komik marvell, namun dengan versi cerita yang berbeda. Kalau di komik baymax merupakan hasil ciptaan Hiro sendiri dan berikatan emosinya dengan Ayahnya, bukan kakaknya. Mungkin disesuaikan jadi kakaknya untuk memudahkan alur pertemuan dengan anggota Big Hero lainnya. Disney juga sepertinya berusaha membuat benang merah dengan setting asli versi Marvell, yakni di Jepang, dengan membuat setting di sebuah kota pseudo bernama San Fransockyo, ya ya sekilas namanya seperti nama hybrid San Fransisco dan Tokyo.

Dan begitulah, film ini mungkin akan termasuk film yang gak bosen ditonton kelak saat diputar di televisi.

Sudah nonton juga? bagaimana menurutmu?

About time : a gently reminder

image

It’s all about what do you almost want in your life ~ tim’s father

Sebuah film yang menurut wiki masuk ke tiga genre sekaligus romance, komedi, dan science fiction. Bercerita soal kehidupan Tim setelah dia mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan untuk menjelajahi waktu

Okay, awalnya saya pikir ini adalah film romance biasa. Tapi rupanya ini bukan sekedar film cinta-cintaan ala roman picisan. Ini lebih banyak. Lebih luas. Lebih sophisticated. Bukan cuma soal cinta sama pasangan, tapi juga soal tentang keluarga, teman, dan bahkan tentang mencintai hidup itu sendiri.

Hihi, kesannya nih film berat ya? Padahal enggak banget, alurnya santai. Isinya tidak terlalu padet. Nggak terlalu ‘drama’. Banyak adegan konyol. Tapi juga ada adegan haru. Salah satu adegan yang paling saya suka di film ini saat Tim dan Ayahnya bareng-bareng melakukan perjalanan waktu ke masa kecil Tim. Menyentuh dan sentimentil.

Inti pesan film ini secara eksplisit diceritakan di ujung film. Cerianya hidup tergantung darimana mata kita memandang, darimana titik fokus kita memberi perhatian. Epilognya lebih ‘kena’, diajak untuk menyadari kita tidak perlu memiliki kemampuan untuk menjelajahi waktu ke belakang untuk memperbaiki hal-hal kecil, saat kita bisa melakukan yang terbaik saat itu. Such a gently reminder

Quite nice, isn’t?

Turbo : ketika siput pengen bisa ngebut

 

turbo

Apa jadinya kalau seekor siput yang jalannya lambat, tergila-gila sama balapan, bahkan bercita-cita jadi pembalap dan memenangi arena balap itu. Mungkin semua akan menganggapnya gila dan tidak masuk akal. Ya persis seperti yang dialami Teo, si siput kebun, di antara kaumnya Teo dianggap penghayal dan gila. Tapi Teo masa bodoh dengan semua anggapan lingkungannya.

Demi menuruti kemauannya dan mimpinya, suatu waktu Teo menjadikan tomat yang terjatuh keluar dari kebun sebagai ajang lomba balap. Lawannya adalah tukang kebun yang membawa mesin pemotong rumput. Sayang, tidak berakhir baik, tomat itu tergilas oleh mesin pemotong itu. Kejadian itu membuat Teo shock. Di tengah malam, saat Teo berusaha menenangkan diri, dia melihat bintang, dan dengan nada separuh putus asa, Teo mengucap sebuah pinta yang tak pernah sanggup diselesaikannya dengan lisan. Rupanya, setitik sinar tadi bukanlah bintang, namun pesawat yang siap mendarat.

Dengan kecepataan pesawat yang luar biasa, melemparkan Teo, jauh dan terhenti di sebuah mobil yang sedang bersiap bertarung balap liar. Tersedot oleh mesin mobil, Teo masuk ke dalam mesin mobil, dan terpapar cairan kimia di mesin mobil. Rupanya hal tersebut membuat Teo menjadi memiliki kekuatan super bisa melaju kencang, sekencang mobil balap.

setelah terusir dari kumpulan siput kebun, dan hampir dimakan oleh burung gagak, Teo dan Chet (saudaranya) ditemukan oleh Tito, seorang penjual Tachos, dan sekelompok orang yang senang mengadakan lomba balap siput. Oh, ya dan tentunya sekelompok siput yang memang doyan balapan. Dengan merekalah kemudian Theo menjalani mimpi terbesarnya, balapan di sirkuit mobil. Bahkan melawan mobil. Well, namanya juga film, semuanya pasti serba mungkin.

Terus gimana endingnya? Ah, pasti sudah banyak yang menebak gimana akhirnya, jadi rasanya tidak perlu ditulis di sini ya? Hehehe, kalau memang penasaran tonton aja.

quote

kutipan yang paling dijual dari film ini sebenernya “tidak ada mimpi yang terlalu besar, dan tidak ada pemimpi yang terlalu kecil”

nice, tapi ada satu adegan yang justru paling saya suka, dialog antara Chet dan Teo ketika memasuki arena sirkuit.

Chet : “Teo, apa kamu tidak takut, bagaimana jika besok ketika kamu terbangun, dan kehilangan kemampuan supermu”

Teo : “Maka aku akan gunakan kekuatanku sebaik mungkin hari ini”

Jleb.

Jumanji dan Indonesia

jumanji (terinspirasi dari indonesiakah?)
terinspirasi dari Indonesia?

Baru-baru ini abis nonton Jumanji lagi, itu loh film petualangan yang diperanin sama Robin William… cerita tentang permainan papan klasik mirip ular tangga gitu… yang ternyata setiap kotak ada tantangan yang muncul secara nyata… hohoho… menyeramkan.

Postingan kali ini nggak akan ngebahas tentang review ato sinopsis film yang diadaptasi dari sebuah novel, soalnya om wiki juga dah punya bahasannya, belom ditambah postingan-postingan blogger lain…

Jadi mau bahas apanya donk? ya tentu sesuai judul postingannya, simak terus aja deh… Baca lebih lanjut

NIM’s Island

Hehe mumpung di rumah kakak, saatnya memanfaatkan fasilitas tv berbayar.. jadi iu selalu punya banyak pilihan lain selain sinetron-sinetron Indonesia yang …  ah you-know-lah… so setelah ceklak ceklek remote, menemukan satu film yang baru saja akan dimulai NIM’s Island . Mmm.. tampaknya cukup menarik karena di sinopsisnya yg super pendek disebut-sebut tentang novelis – impian seorang iu – yaa siapa tau dapet pelajaran berharga.

Nim's Island

Baca lebih lanjut