Sabtu Seru Belajar Foto Produk Pakai Ponsel

Jadi, akhir maret lalu saya mengikuti smartphone photography workshop bareng Mbak Ariana di Depok. Sudah lama memang, ngintipin jadwal kelas Mbak Ariana. Nah, mumpung waktunya pas dan lokasinya masih sanggup diarungi pake gojek (walau ternyata lebih jauh dari yang saya bayangin) saya memutuskan untuk ikut kelasnya.
Acara workshop dimulai dengan cuap-cuap Mbak Ariana berbagi ilmu fotografinya yang dipelajarinya secara otodidak. Cara menyampaikan materinya ringan dan seru, tidak ada istilah-istilah jelimet yang berbau teknis kamera. Namanya juga pelatihan memanfaatkan ponsel, bukan kelas fotografi professional. Eits, tapi meski cuma bermodalkan ponsel bukan berarti hasil fotonya nggak maksimal. Asal perhatikan beberapa poin penting berikut ini:

Baca lebih lanjut

Kilas balik

Salah satu fitur yang ditawarkan di beberapa media sosial adalah kilasan balik tentang apa telah diunggah sebelumnya, biasanya hitungannya dalam tahun. Tujuannya tentu untuk mengingat, mengenang cerita lalu. 

Pun saya hari itu, sebuah notifikasi muncul. Isinya postingan saya setahun lalu. Otomatis ingatan saya memutar peristiwa pemicu postingan. Bukan cuma itu, kilasan balik itu juga memaksa otak saya untuk intropeksi diri. Meninjau ulang langkah selama satu tahun ini. Sudahkah maju, diam di tempat, atau mundur? Pertanyaan yang butuh keberanian dan kejujuran untuk menjawabnya.

Sedih adalah ketika jawabannya adalah masih diam di tempat. Lebih sedih lagi jika jawabannya justru mundur. Tapi yang paling sedih adalah ketika tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki alat ukurnya. 

Eits, tapi tidak, tidak, tidak boleh begitu. Kilas balik itu bukan untuk meratap, terjebak apalagi hanyut. Itu gagal move on namanya. Kalau memang diam di tempat ya maju, kalau mundur ya kejar, kalau belum ada tolok ukurnya buat! Jadi kalau suatu saat kilasan balik itu muncul lagi, kita bisa berbangga berhasil melewatinya.

#ntms 


Arisan

Dulu, pernah mendengar cerita tentang seorang suami yang melarang istrinya mengikuti arisan (meski tidak melarang si istri untuk datang dan berkumpul dengan teman-temannya). Alasannya karena hubungan antar anggota arisannya sudah tidak ada ikatan yang kuat, selain dulu anak-anaknya pernah bersekolah di tempat yang sama. Well, saat itu, saya tidak setuju, pikir saya saat iru “lho memangnya kenapa? kan justru untuk mempererat silahturahmi”

Sampai akhirnya beberapa bulan lalu saya yang mengalaminya sendiri,  arisan dengan teman-teman kantor yang sebagiannya sudah resign. Seperti halnya kebiasaan banyak hal di Indonesia, yang cuma semangat di awal aja, nasib arisan kami pun begitu. Sekali-dua kali bisa terselenggara meriah dan lancar jaya. Lama-lama, semangatnya melempem, mulai dari waktu penyelenggaraan yang terulur-ulur, sampai setoran uang arisan yang kadang telat bayar. Sampai puncaknya, ketika arisan yang tinggal beberapa putaran lagi sekaligus ditutup. Apalagi posisi saya saat itu sudah tidak bergabung lagi di kantor.

Drama “lepas-tangan” sampai drama penagihan sisa setoran arisan. Nyatanya memang tidak mudah menagih yang sebenarnya sudah jadi kewajiban masing-masing anggota untuk melunasi setoran arisan, padahal sudah diberi keringanan angsuran juga. Akhirnya urusan penutupan arisan ini baru benar-benar selesai beberapa bulan setelahnya.

Sedih sih, padahal awalnya arisan itu dicetuskan sebagai ajang silahturahmi meski sudah terpencar-pencar kerjanya.  Tapi, akhirnya malah berujung seperti itu, sempat jadi masalah yang bikin nggak nyaman. Dari pengalaman itu, saya baru bisa memahami alasan si suami yang memang logis.

Arisan itu ternyata nggak cuma soal kumpul-kumpul apalagi sekedar rumpi, tapi juga soal komitmen (ck, ck, dalem banget), ya namanya juga bersinggungan dengan uang. Oh, oh, saya juga bisa belajar mengenali karakter orang lain dari sudut lain ketika mengurusi Arisan ini, yang mungkin tak nampak hanya dengan interaksi biasa. Dipikir-pikir, arisan itu sebenarnya bentuk berorganisasi juga lho ya?

Sekian saja curcolnya. Hehehe..

Cerita Si Tukang Sol Sepatu

Ilmu dan hikmah itu memang bisa didapat di mana saja, kapan saja – bahkan dari tukang sol sepatu keliling. Cerita ini saya tuturkan ulang dari cerita seorang teman tentang perbincangannya dengan seorang  tukang sol sepatu. Ceritanya mungkin tidak persis sama, tapi semoga tidak mengurangi esensinya. Baca lebih lanjut

Menonton Pentas Akhir Tahun Ponakan

Weekend lalu saya menonton pentas akhir tahun keponakan yang memang diadakan tiap tahun oleh sekolahnya. Setiap tahunnya menawarkan tema yang berbeda dan bertujuan mengenalkan budaya. Tahun ini Proyeknya dibuat menjadi satu pertunjukkan kolosal yang melibatkan satu angkatan.

Menonton pertunjukkan seperti ini memang selalu menyenangkan buat saya, apalagi yang memerankannya masih bocah-bocah lucu. Tak jarang kadang saya sampai terbawa emosi haru melihat pertunjukkan seperti ini. Ah ya, saya memang terlalu sentimentil untuk urusan macam ini.
Baca lebih lanjut

Main ke Cirebon #2 : Sehari bersama Si Sohib

DSCN0438

Ckckck, dua bulan sejak postingan terkakhir, dan bahkan ini sudah lebih dari tiga bulan berlalu sejak perjalanan saya ke Cirebon. *toyor kepala sendiri* *Grin*

Baiklah mari kita teruskan cerita yang sempat tertunda. Hari Kedua ini saya baru benar-benar berwisata. Seluruh itinerary saya serahkan sepenuhnya pada si Sohib yang asli Cirebon, saya pasrah.

Here We Go….
Baca lebih lanjut

Main ke Cirebon #1 : Menepati Janji

Baiklah sebelum tingkat lupanya semakin tinggi, sebaiknya saya harus benar-benar menyempatkan waktu untuk menulis cerita perjalanan saya ke Cirebon, beberapa hari lalu, oke sedikit lebih lama dari itu, lebih tepatnya beberapa minggu lalu. Dan beginilah ceritanya …
Baca lebih lanjut

[Writing Project] Berkisah Ibu

Saya cukup lama termenung untuk memulai tulisan saya kali ini. Tidak hanya dalam hitungan jam, namun juga hari. Memilah dan memilih bagaimana saya menghadirkan sosok Ibu dalam writing project ini.

Ya, Ibu. Sosok yang pasti berpengaruh banyak pada pribadi seseorang, demikian pun dengan saya. Tapi, entahlah, mengapa cukup sulit untuk saya menuliskannya. Rasanya bingung memilih momen mana yang akan saya jadikan poin cerita. Terlalu banyak cerita, semua sama istimewanya untuk saya pilih satu.

Pelan-pelan saja, Yu. Biarkan memori, jari dan hatimu yang bekerja. Sebuah suara dari dalam berusaha menenangkan otak yang mengalami kebuntuan. Baca lebih lanjut

Pembuka cerita di depan gerbong kereta

Perjalanan saya menuju kota sohib lama baru saja akan dimulai. Kereta yang akan membawa saya baru saja datang. Penumpang yang diangkut sebelumnya berhamburan turun, berbaur dengan penumpang yang bersiap naik.

Dan saya berpapasan dengan sesosok wanita yang baru saja turun. Yang menarik perhatian saya adalah ekspresi wajahnya yang meluapkan kegembiraan dengan sangat. Dari Matanya tampak mencari-cari sosok seseorang. Entah siapa.

Dalam pikiran saya mungkin dia mencari sosok orang yang akan menjemputnya. Saya bayangkan ekspresinya tadi bentuk ketidaksabarannya bertemu dengan orang yang dicarinya. Bentuk luapan kerinduannya. Atau mungkin dia sedang mencari teman seperjalanannya yang sudah lebih dahulu turun. Ekspresinya tadi bentuk ketidaksabarannya melanjutkan perjalanan.

Tidak lebih dari satu menit, namun ekspresi ibu tadi menularkan senyum pada saya. Antusiasme pada sebuah perjalanan. Memberikan sebuah kesan pertama untuk perjalanan saya kali ini.

Hmmm…. Saya jadi teringat salah satu posting (aduh saya lupa blog siapa, coba nanti saya cari tahu kalau sudah ketemu saya tautkan disini). Bahwa salah satu yang menarik dari stasiun adalah orang-orangnya. Tempat bertemu, berpisah, dan beragam ekspresi yang menyenangkan untuk diperhatikan.

Ah, terima kasih untuk Ibu tadi, sudah menjadi pembuka cerita perjalanan saya kali ini. Semoga perjalanan ibu menyenangkan selalu…

Posted from WordPress for Android

Hello, how are you Dream?

Hai… Apa kabar mimpiku?

Maaf, terlalu lama aku mengacuhkanmu. Kemarin kamu menyapaku lagi lewat tayangan wawancara dengan Mbak Helvy di salah satu stasiun tivi. Mbak Helvy bercerita soal hasratnya tentang menulis. Tentang ibunya yang rajin menulis tentang keseharian, agar tetap hidup di anak cucu cicit dan seterusnya.

Apa pun profesinya, dia bisa jadi seorang penulis

Helvy Tiana Rosa

image

~ Posted from WordPress for Android ~