Kilas balik

Salah satu fitur yang ditawarkan di beberapa media sosial adalah kilasan balik tentang apa telah diunggah sebelumnya, biasanya hitungannya dalam tahun. Tujuannya tentu untuk mengingat, mengenang cerita lalu. 

Pun saya hari itu, sebuah notifikasi muncul. Isinya postingan saya setahun lalu. Otomatis ingatan saya memutar peristiwa pemicu postingan. Bukan cuma itu, kilasan balik itu juga memaksa otak saya untuk intropeksi diri. Meninjau ulang langkah selama satu tahun ini. Sudahkah maju, diam di tempat, atau mundur? Pertanyaan yang butuh keberanian dan kejujuran untuk menjawabnya.

Sedih adalah ketika jawabannya adalah masih diam di tempat. Lebih sedih lagi jika jawabannya justru mundur. Tapi yang paling sedih adalah ketika tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki alat ukurnya. 

Eits, tapi tidak, tidak, tidak boleh begitu. Kilas balik itu bukan untuk meratap, terjebak apalagi hanyut. Itu gagal move on namanya. Kalau memang diam di tempat ya maju, kalau mundur ya kejar, kalau belum ada tolok ukurnya buat! Jadi kalau suatu saat kilasan balik itu muncul lagi, kita bisa berbangga berhasil melewatinya.

#ntms 


Iklan

KL keping 1 : Pusing-pusing di tanah tetangga

Akhir bulan Mei kemarin, di tengah-tengahmb kehebohan load kerjaan, saya sempet nekad traveling ke KL demi memenuhi janji nemenin sobat melancong.

Awalnya niat traveling ini bakal dibuat bersambung gitu, dari kandang merlion ke negeri jiran. Karena satu dan banyak hal, akhirnya diputuskan trip kali ini berangkat ke Malaysia aja, daripada batal sama sekali. Dan begitulah, kami berdua berangkat.

Jadwal keberangkatan dari soetta jam setengah 12an dan mendarat sekitar jam 3an waktu bagian malaysia yang satu jam lebih cepat dibanding waktu jakarta. Dan setelah mendarat, meski sudah berusaha preventif dengan perbedaan bahasa melayu v.s bahasa indonesia, tetep aja susah menahan tawa saat membaca plang ‘tuntutan bagasi’. Haha, oke, baiklah, mari kita menuntut bagasi. Baca lebih lanjut