Kilas balik

Salah satu fitur yang ditawarkan di beberapa media sosial adalah kilasan balik tentang apa telah diunggah sebelumnya, biasanya hitungannya dalam tahun. Tujuannya tentu untuk mengingat, mengenang cerita lalu. 

Pun saya hari itu, sebuah notifikasi muncul. Isinya postingan saya setahun lalu. Otomatis ingatan saya memutar peristiwa pemicu postingan. Bukan cuma itu, kilasan balik itu juga memaksa otak saya untuk intropeksi diri. Meninjau ulang langkah selama satu tahun ini. Sudahkah maju, diam di tempat, atau mundur? Pertanyaan yang butuh keberanian dan kejujuran untuk menjawabnya.

Sedih adalah ketika jawabannya adalah masih diam di tempat. Lebih sedih lagi jika jawabannya justru mundur. Tapi yang paling sedih adalah ketika tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki alat ukurnya. 

Eits, tapi tidak, tidak, tidak boleh begitu. Kilas balik itu bukan untuk meratap, terjebak apalagi hanyut. Itu gagal move on namanya. Kalau memang diam di tempat ya maju, kalau mundur ya kejar, kalau belum ada tolok ukurnya buat! Jadi kalau suatu saat kilasan balik itu muncul lagi, kita bisa berbangga berhasil melewatinya.

#ntms 


Iklan

Cerita Si Tukang Sol Sepatu

Ilmu dan hikmah itu memang bisa didapat di mana saja, kapan saja – bahkan dari tukang sol sepatu keliling. Cerita ini saya tuturkan ulang dari cerita seorang teman tentang perbincangannya dengan seorang  tukang sol sepatu. Ceritanya mungkin tidak persis sama, tapi semoga tidak mengurangi esensinya. Baca lebih lanjut

Hidup, untuk Menghidupi Hidup

kontemplasi yang bikin saya jleb bacanya…

dan saya rasa perlu untuk saya re-blogged, agar menjadi catatan

Angkasa13

Sebuah perjalanan pulang yang melelahkan malam itu membawa alam fikiran saya melayang jauh. Memikirkan apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan, tentang apa sebenarnya untuk apa kelelahan kelelahan ini sehingga mau kita jalani.

Fikiran ini saya biarkan mengalir bebas. Sambil menyetir perlahan, saya matikan AC dan membuka jendela, membiarkan udara malam yang menemani saja. Saat ini saya sedang “mengejar” sesuatu pencapaian dalam bisnis saya. Tak jarang saya harus pulang larut malam, tak jarang pula saya menunda atau mengabaikan hal lain, karena ingin fokus dalam pencapaian tersebut, bahkan tak jarang juga saya mengabaikan kesehatan saya.

Di lampu merah, pandangan saya terhenti pada seorang bapak, yang di pinggir trotoar yang tampaknya sedang berstirahat kelelahan, disampingnya barang dagangannya yang masih ia gelar. Juga ada beberapa pedagang asongan yang masih menjajakan barang dagangannya ke setiap jendela mobil.

Waktu telah hamir dari jam sepuluh, waktu yang dalam dimana banyak orang telah pulang bertemu keluarganya, beristirahat, mempersiapkan…

Lihat pos aslinya 171 kata lagi

[Writing Project] Berkisah Ibu

Saya cukup lama termenung untuk memulai tulisan saya kali ini. Tidak hanya dalam hitungan jam, namun juga hari. Memilah dan memilih bagaimana saya menghadirkan sosok Ibu dalam writing project ini.

Ya, Ibu. Sosok yang pasti berpengaruh banyak pada pribadi seseorang, demikian pun dengan saya. Tapi, entahlah, mengapa cukup sulit untuk saya menuliskannya. Rasanya bingung memilih momen mana yang akan saya jadikan poin cerita. Terlalu banyak cerita, semua sama istimewanya untuk saya pilih satu.

Pelan-pelan saja, Yu. Biarkan memori, jari dan hatimu yang bekerja. Sebuah suara dari dalam berusaha menenangkan otak yang mengalami kebuntuan. Baca lebih lanjut

“Kelas” – Ruang yang mencatatkan cerita Akademi Berbagi

Mendadak memiliki waktu lebih, langsung mengingatkan saya untuk berlatih menulis lagi (setelah vakum sekian lama -.-“), tentunya salah satu amunisinya adalah dengan membaca. Dan kemudian, seolah alam bersekutu, buku ini muncul di inbox saya melalui email promo kutukutubuku.com.

"Kelas"

“Kelas” ini merupakan ringkasan catatan perjalanan Akademi Berbagi, komunitas yang didirikan sang penulis, Mbak Ainun Chomsun, selama 5 tahun terakhir.
Baca lebih lanjut

Menjadi Kartini

Yaya, saya telat ini sudah 25 April. Tapi saya rasa semangat Kartini nggak cuma muncul di tanggal 21 April saja kan? Jadi, selamat Hari Kartini.. (maksa.com)

Masih inget nggak sewaktu kecil untuk merayakan Hari Kartini, kita seringkali berfestival dengan pakaian daerah. Untuk di pulau Jawa, gadis cilik banyak yang menggunakan kebaya lengkap dengan sanggulnya, sebagaimana Kartini berdandan. Atau kadang diadakan lomba memasak, menjahit, merangkai bunga, dan lain-lain. Pernah suatu kali saya membaca komentar yang bernada skeptis. “Kenapa sih harus pake kebaya atau lomba masak? Bukankah itu justru melambangkan feodalisme, hal yang selama ini dilawan oleh Kartini” . Hehe, komentar tepatnya sih nggak seperti ini, lebih panjang dan lebih logis. Uh, maaf, saya memang sering terkena short-memory-syndrome. Baca lebih lanjut

rumput tetangga lebih hijau?

freshly green

well, siapa yang tak kenal ungkapan  ini? Idiom untuk menceritakan ketika manusia kurang bersyukur pada apa yang dimilikinya dan melihat orang lain memiliki kehidupan yang lebih memuaskan.

Pertanyaannya, benarkah rumput tetangga lebih hijau?

Mungkin karena kita tidak berdiri di atas rumputnya, sehingga kita tidak merasakan kerikil-kerikilnya yang tidak terlihat.

Atau mungkin kita melihatnya tidak dari dekat sehingga kita tidak melihat ada sebagian rumput atau ilalang liar ikut tumbuh diantaranya sehingga sedikit menganggu pemandangan.

Atau mungkin kita melihatnya tidak dalam jangka waktu yang lama, sehingga tidak terlihat membosankan atau menjadi hal biasa bagi mata kita.

Atau… faktanya rumput tetangga memang lebih hijau. Tapi tahukah kita, seberapa besar usaha yang dilakukan si tetangga agar rumputnya hijau dan asri, mulai dari menanam, memberi pupuk, menyiangi, dan perjuangan lainnya yang mungkin kita tidak pernah membayangkannya.

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

(Jangan Menyerah – D’Masiv)

Dan benarlah hidup itu seperti roda yang berputar

Pagi itu saya meneteskan airmata untuk seorang pria yang belum lama kukenal. Dari cerita-cerita orang sekitar, pria ini galak, sering marah-marah, dan sejumlah penilaian negatif lainnya.

Tapi entah kenapa pagi itu orang-orang itu justru terbawa dalam kesimpatikan. Mungkin karena sebelumnya seorang pria yang biasa hidup mewah, bebas, higienis, rapih, gagah, berkuasa.. kini harus menjalani sebuah, yaaah katakanlah ujian atau musibah, yang bisa dikatakan 180 derajat berbeda dari pola hidupnya sebelumnya.. dan mungkin bagi mereka yang mengenalnya, hal itu terdengar menyedihkan.

Bagi saya sendiri, saya tak kuat lagi menahan trenyuh hati saat mendengar bahwa kenyataannya dia menghadapi ini hampir tanpa dukungan – tanpa istri, tanpa anak – hanya seorang kakak dan kolega yang mungkin tidak bisa support dia sepenuhnya..

dan benarlah hidup itu seperti roda yang berputar, kadang di atas, kadang di bawah…

Feeling Blue

Have u ever been feeling blue?

blueRasanya semua orang pernah deh ya ngerasa sedih, siapa coba yang belum pernah ngerasa sedih, kecuali mereka yang nggak punya rasa, nggak punya hati..

Tapi… pernah nggak sih kamu ngerasa sedih, dan kamu nggak tau kenapa alesannya?

Yaitu,  saat tiba-tiba aja hati kamu rasanya begitu kosong dan sedih… malah kadang-kadang kerasa sakit, perih, teriris-iris, pokoknya pilu, malah tanpa kamu sadari air mata udah netes gitu aja, dan lebih parahnya ketika kamu sadar, bukannya berhenti tapi justru malah membanjir

Atau saat kamu bareng temen-temen, tapi hati kamu ngerasa sepi, sendiri, senyum cuma ikut senyum, ketawa cuma ikut ketawa, tapi hati kamu nggak hadir di sana.

Atau malah cuma karena kamu ngedengerin lagu yang bahkan kadang-kadang kamu nggak tau apa artinya, kamu pengen nangis dan bikin kamu mengurut dada, terenyuh

Buat aku perasaan kayak gitu, sedihnya kerasa dua kali lebih hebat.. justru karena nggak tau apa alesannya…

Actually solusinya cuma satu sih, curhat sama yang Maha Mengetahui, yang  Maha Membolak-balikan Hati.. sometimes it’s works, sedih tadi tiba-tiba ilang gitu aja…

Tapi kadang-kadang, sedih itu tetap di hati… dan saat itu rasa sedih itu akan lebih menghebat, karena aku tau.. mungkin rasa sedih itu hadir karena aku terlalu jauh dari-NYA

Oleh-oleh si boss

ya gitu deh, si boss baru aja pulang dari china dalam rangka purchasing n survey alat… apa sih oleh-olehnya?

1. tembok china ? he nggak mungkin lah

2. Jackie Chan? duuh ngapai… menuh2in indonesia aja…

3. baju china? ya elah di indonesia juga dah banyak, baju produksi china yg harganya udah bisa bikin industri tekstil dalam negeri kembang kempis…

jadi apa dong? hmm… buat saya sebuah cerita sudah cukup jadi oleh-oleh (eh, tapi kalo ditambah bukti fisik a.k.a cinderamata pasti tambah berkesan deh tuh cerita… hehehehehe)

jadi si boss cerita tentang budaya kerja di sana… cerita tentang sebuah efiesiensi yg berujung pada low cost – yg artinya bisa buat harga lebih murah…

suka heran nggak sih kalau barang buatan china tuh bisa lebih murah? karena mereka bisa menerapkan hemat energi yang luar biasa.. di pabrikan yg boss saya datengin itu mereka nggak kenal pemanas ato AC, meski suhuny mencapai 10° C atau 30° C (hemat atau keterlaluan ya?). penghematan ini memang berdampak besar pada biaya operasional mereka.

dua, mereka selalu diberi target produksi. Jadi misal dalam satu jam, harus menghasilkan sekian pieces. harus! tidak boleh tidak! nah ini yg mengakibatkan kenapa banyak barang china dengan harga murah biasanya disertai dengan kualitas yg abal-abal, karena mereka dikejar tenggat waktu.

Tapi nggak semua barang china tuh asal dibuatnya, ada juga yang setiap proses harus melewati quality control. Tapi tentunya hasilnya lebih sedikit. perbandingannya bisa mencapai 1:5, 1 untuk full quality control dan 5 untuk benar-benar mass produk, ckckckck…

…eh tapi, nggak semua yang mahal itu bagus dan murah itu jelek ya…