Cek Toko Sebelah setelah Hangout

hangout-vs-cts

foto diambil dari http://www.bioskoptoday.com

Ihiy, awal tahun ini yang menjadi film saya tonton di bioskop adalah dua film Indonesia yang dua-duanya merupakan film garapan komika Indonesia. Yang pertama adalah Hangout – garapannya Raditya Dika – dan disusul dengan “Cek Toko Sebelah” yang dikerjakan oleh Ernest.

Boleh kan ya, kalau kali ini saya pingin membandingkan dua film ini? Yaaa… memang dua film ini bukan film yang bisa dibilang apple to apple sih, karena genrenya yang berbeda, meski keduanya berbumbu komedi.

Baca lebih lanjut

Senja Pertama

Selamat Tahun Baru 2017 !

Biar sesuai sama momentumnya, postingan perdana tahun ini saya mulai dengan review buku Senja Pertama (ah meski akhirnya aku melewatkan senja satu januari untuk mempostingnya).

Buku ini adalah antologi cerpen karya Muhammad Ariqy Raihan. Ada 17 cerita pendek di dalamnya, dan dibuat saling berhubungan. Kalau diminta menilai buku ini dalam satu kata, maka saya akan memilih:

Manis

Diksi yang puitis khas Rere (panggilan akrab penulis) akan terus bertebaran sepanjang halaman buku. Buat saya pribadi, saking manisnya, cerita di dalamnya lebih menyenangkan untuk dibaca pelan-pelan, tidak langsung dihabiskan sekaligus. Ibaratnya bisa giung. 

Paling pas itu membacanya saat santai. Biarkan satu cerita dulu lumer, kemudian berikan jeda, baru kemudian baca lagi. Persis seperti menikmati cupcake di sore hari menjelang senja.
Sebagian besar cerita di buku ini pernah tayang di Storial, tempat pertama saya berkenalan dengan tulisan dan bahkan akhirnya dengan sang penulis. Meski baca berulang, saya tidak bosan membacanya. Saya memang suka dengan tulisan yang bergaya-gaya puitis. Meleleh. Bikin baper. 

“Bolehkah senyum yang dilukis gadis ini kuberi pigura dan kupajang di kamar tidurku?”

Meski sudah diterbitkan secara indi oleh Penerbit Orbit, beberapa potongan Senja Pertama masih bisa dibaca secara online di Storial . Anggap sebagai sampel, mungkin lama-lama jadi ketagihan juga terus pengen baca cerita lainnya.

Baiklah, plong rasanya sudah menuliskan tentang Senja Pertama di sini. Omong-omong penulisnya, baru aja melahirkan buku baru lagi. Masih berbau senja lagi. Kali ini berjudul “Lampion Senja”. Kayaknya peringatannya masih sama nih. Hati-Hati Romantis!

Ender’s Game – Proses selalu lebih penting

Beberapa hari lalu saya baru saja Ender's Gamenonton film Ender’s Game. Film ini sebenarnya rilis tahun 2013, tapi saya sendiri baru ngeh ada film ini pas diputar di salah satu stasiun televisi swasta.

Film ini diangkat dari novel Orson Scott Card berjudul sama, bercerita tentang Ender Wiggin yang menjalani sekolah pelatihan perang. Sekolah ini diadakan untuk persiapan menghadapi perang melawan formics – alien yang telah menginvasi bumi. Meski formics telah berhasil terusir dari bumi, namun misi sekolah ini dibentuk untuk membasmi formics dari jagad raya selamanya untuk menghindari invasi Formics selanjutnya.

Ender diceritakan berhasil melewati serangkaian proses pelatihan dengan nilai tinggi, kemudian mendapatkan promosi dan memimpin armadanya sendiri. Hingga akhirnya dia harus menghadapi ujian kelulusan bersama timnya.

Well, Film ini mengalir sederhana dan ringan. hingga tontonan ini bisa dinikmati oleh anak-anak, meski tetap harus dengan pendampingan orang tua. Jangan berharap ada konflik yang complicated, mungkin untuk sebagian orang akan menganggapnya datar. Tapi yang membuat saya ingin menuliskannya adalah pesan yang disampaikan menjelang penghujung film. Yakni saat Ender merasa ditipu oleh sang perwira tinggi mengenai ujian kelulusannya, dan Ender mendebat sang perwira tinggi.

“No. It doesn’t important if we win. But the way we win it’s matters”

karena proses selalu menjadi bagian yang lebih penting dibandingkan hasilnya.

*noted. angguk-angguk setuju

Sudah pernah nonton film ini juga?