Kilas balik

Salah satu fitur yang ditawarkan di beberapa media sosial adalah kilasan balik tentang apa telah diunggah sebelumnya, biasanya hitungannya dalam tahun. Tujuannya tentu untuk mengingat, mengenang cerita lalu. 

Pun saya hari itu, sebuah notifikasi muncul. Isinya postingan saya setahun lalu. Otomatis ingatan saya memutar peristiwa pemicu postingan. Bukan cuma itu, kilasan balik itu juga memaksa otak saya untuk intropeksi diri. Meninjau ulang langkah selama satu tahun ini. Sudahkah maju, diam di tempat, atau mundur? Pertanyaan yang butuh keberanian dan kejujuran untuk menjawabnya.

Sedih adalah ketika jawabannya adalah masih diam di tempat. Lebih sedih lagi jika jawabannya justru mundur. Tapi yang paling sedih adalah ketika tidak bisa menjawabnya karena tidak memiliki alat ukurnya. 

Eits, tapi tidak, tidak, tidak boleh begitu. Kilas balik itu bukan untuk meratap, terjebak apalagi hanyut. Itu gagal move on namanya. Kalau memang diam di tempat ya maju, kalau mundur ya kejar, kalau belum ada tolok ukurnya buat! Jadi kalau suatu saat kilasan balik itu muncul lagi, kita bisa berbangga berhasil melewatinya.

#ntms 


Arisan

Dulu, pernah mendengar cerita tentang seorang suami yang melarang istrinya mengikuti arisan (meski tidak melarang si istri untuk datang dan berkumpul dengan teman-temannya). Alasannya karena hubungan antar anggota arisannya sudah tidak ada ikatan yang kuat, selain dulu anak-anaknya pernah bersekolah di tempat yang sama. Well, saat itu, saya tidak setuju, pikir saya saat iru “lho memangnya kenapa? kan justru untuk mempererat silahturahmi”

Sampai akhirnya beberapa bulan lalu saya yang mengalaminya sendiri,  arisan dengan teman-teman kantor yang sebagiannya sudah resign. Seperti halnya kebiasaan banyak hal di Indonesia, yang cuma semangat di awal aja, nasib arisan kami pun begitu. Sekali-dua kali bisa terselenggara meriah dan lancar jaya. Lama-lama, semangatnya melempem, mulai dari waktu penyelenggaraan yang terulur-ulur, sampai setoran uang arisan yang kadang telat bayar. Sampai puncaknya, ketika arisan yang tinggal beberapa putaran lagi sekaligus ditutup. Apalagi posisi saya saat itu sudah tidak bergabung lagi di kantor.

Drama “lepas-tangan” sampai drama penagihan sisa setoran arisan. Nyatanya memang tidak mudah menagih yang sebenarnya sudah jadi kewajiban masing-masing anggota untuk melunasi setoran arisan, padahal sudah diberi keringanan angsuran juga. Akhirnya urusan penutupan arisan ini baru benar-benar selesai beberapa bulan setelahnya.

Sedih sih, padahal awalnya arisan itu dicetuskan sebagai ajang silahturahmi meski sudah terpencar-pencar kerjanya.  Tapi, akhirnya malah berujung seperti itu, sempat jadi masalah yang bikin nggak nyaman. Dari pengalaman itu, saya baru bisa memahami alasan si suami yang memang logis.

Arisan itu ternyata nggak cuma soal kumpul-kumpul apalagi sekedar rumpi, tapi juga soal komitmen (ck, ck, dalem banget), ya namanya juga bersinggungan dengan uang. Oh, oh, saya juga bisa belajar mengenali karakter orang lain dari sudut lain ketika mengurusi Arisan ini, yang mungkin tak nampak hanya dengan interaksi biasa. Dipikir-pikir, arisan itu sebenarnya bentuk berorganisasi juga lho ya?

Sekian saja curcolnya. Hehehe..

Ender’s Game – Proses selalu lebih penting

Beberapa hari lalu saya baru saja Ender's Gamenonton film Ender’s Game. Film ini sebenarnya rilis tahun 2013, tapi saya sendiri baru ngeh ada film ini pas diputar di salah satu stasiun televisi swasta.

Film ini diangkat dari novel Orson Scott Card berjudul sama, bercerita tentang Ender Wiggin yang menjalani sekolah pelatihan perang. Sekolah ini diadakan untuk persiapan menghadapi perang melawan formics – alien yang telah menginvasi bumi. Meski formics telah berhasil terusir dari bumi, namun misi sekolah ini dibentuk untuk membasmi formics dari jagad raya selamanya untuk menghindari invasi Formics selanjutnya.

Ender diceritakan berhasil melewati serangkaian proses pelatihan dengan nilai tinggi, kemudian mendapatkan promosi dan memimpin armadanya sendiri. Hingga akhirnya dia harus menghadapi ujian kelulusan bersama timnya.

Well, Film ini mengalir sederhana dan ringan. hingga tontonan ini bisa dinikmati oleh anak-anak, meski tetap harus dengan pendampingan orang tua. Jangan berharap ada konflik yang complicated, mungkin untuk sebagian orang akan menganggapnya datar. Tapi yang membuat saya ingin menuliskannya adalah pesan yang disampaikan menjelang penghujung film. Yakni saat Ender merasa ditipu oleh sang perwira tinggi mengenai ujian kelulusannya, dan Ender mendebat sang perwira tinggi.

“No. It doesn’t important if we win. But the way we win it’s matters”

karena proses selalu menjadi bagian yang lebih penting dibandingkan hasilnya.

*noted. angguk-angguk setuju

Sudah pernah nonton film ini juga?

Hello June, Hello Ramadhan

Hehe,🙂 iya ini sudah sedikit terlambat untuk menyapa keduanya.

Seminggu pertama bulan Juni sudah terlewati. Selama tujuh hari itu pun tidak satu pun hari berlalu tanpa disapa hujan, eh ya, setidaknya di kota tempatku tinggal. Entah, mungkin ia kini tak lagi cukup tabah untuk menutupi rintik rindunya. Atau mungkin tak lagi ragu menapakkan jejaknya di jalan-jalan.

Seperti yang selalu kupercaya, hujan adalah bentuk rahmat-Nya. Pun begitu dengan Hujan bulan Juni tahun ini, ia menyejukkan Ramadhan yang sudah datang sejak dua hari lalu.

Lalu sekali lagi…
Halo Juni – selamat datang
Halo Ramadhan – senang sekali bisa bertemu lagi denganmu

Cerita Si Tukang Sol Sepatu

Ilmu dan hikmah itu memang bisa didapat di mana saja, kapan saja – bahkan dari tukang sol sepatu keliling. Cerita ini saya tuturkan ulang dari cerita seorang teman tentang perbincangannya dengan seorang  tukang sol sepatu. Ceritanya mungkin tidak persis sama, tapi semoga tidak mengurangi esensinya. Baca lebih lanjut

Menjadi Kartini

Alih alih bikin tulisan baru malah cuma reblog tulisan lama… Ckckckck… *jitakkepalasendiri*

But anyway,
Selamat Hari Kartini!

Puzzle of Life

Yaya, saya telat ini sudah 25 April. Tapi saya rasa semangat Kartini nggak cuma muncul di tanggal 21 April saja kan? Jadi, selamat Hari Kartini.. (maksa.com)

Masih inget nggak sewaktu kecil untuk merayakan Hari Kartini, kita seringkali berfestival dengan pakaian daerah. Untuk di pulau Jawa, gadis cilik banyak yang menggunakan kebaya lengkap dengan sanggulnya, sebagaimana Kartini berdandan. Atau kadang diadakan lomba memasak, menjahit, merangkai bunga, dan lain-lain. Pernah suatu kali saya membaca komentar yang bernada skeptis. “Kenapa sih harus pake kebaya atau lomba masak? Bukankah itu justru melambangkan feodalisme, hal yang selama ini dilawan oleh Kartini” . Hehe, komentar tepatnya sih nggak seperti ini, lebih panjang dan lebih logis. Uh, maaf, saya memang sering terkena short-memory-syndrome.

Lihat pos aslinya 247 kata lagi

Menonton Pentas Akhir Tahun Ponakan

Weekend lalu saya menonton pentas akhir tahun keponakan yang memang diadakan tiap tahun oleh sekolahnya. Setiap tahunnya menawarkan tema yang berbeda dan bertujuan mengenalkan budaya. Tahun ini Proyeknya dibuat menjadi satu pertunjukkan kolosal yang melibatkan satu angkatan.

Menonton pertunjukkan seperti ini memang selalu menyenangkan buat saya, apalagi yang memerankannya masih bocah-bocah lucu. Tak jarang kadang saya sampai terbawa emosi haru melihat pertunjukkan seperti ini. Ah ya, saya memang terlalu sentimentil untuk urusan macam ini.
Baca lebih lanjut

Hidup, untuk Menghidupi Hidup

kontemplasi yang bikin saya jleb bacanya…

dan saya rasa perlu untuk saya re-blogged, agar menjadi catatan

angkasa13

Sebuah perjalanan pulang yang melelahkan malam itu membawa alam fikiran saya melayang jauh. Memikirkan apa sebenarnya yang sedang kita perjuangkan, tentang apa sebenarnya untuk apa kelelahan kelelahan ini sehingga mau kita jalani.

Fikiran ini saya biarkan mengalir bebas. Sambil menyetir perlahan, saya matikan AC dan membuka jendela, membiarkan udara malam yang menemani saja. Saat ini saya sedang “mengejar” sesuatu pencapaian dalam bisnis saya. Tak jarang saya harus pulang larut malam, tak jarang pula saya menunda atau mengabaikan hal lain, karena ingin fokus dalam pencapaian tersebut, bahkan tak jarang juga saya mengabaikan kesehatan saya.

Di lampu merah, pandangan saya terhenti pada seorang bapak, yang di pinggir trotoar yang tampaknya sedang berstirahat kelelahan, disampingnya barang dagangannya yang masih ia gelar. Juga ada beberapa pedagang asongan yang masih menjajakan barang dagangannya ke setiap jendela mobil.

Waktu telah hamir dari jam sepuluh, waktu yang dalam dimana banyak orang telah pulang bertemu keluarganya, beristirahat, mempersiapkan…

Lihat pos aslinya 171 kata lagi

[Kuliner] Bubur Ayam Kuah Rawon

Suka jajan bubur ayam? Biasanya bumbu bubur ayam memang tergantung khas daerahnya. Yang paling banyak saya temui di Jakarta ini adalah Bubur Ayam yang dibumbui kuah kuning plus kecap. Lalu jenis bubur ayam kedua yang sering saya makan, bubur ayam Bandung – biasanya buburnya hanya dibumbui kecap manis, kecap asin (itupun jarang saya tambahin, biasanya saya makan bubur ayam Bandung polos tanpa bumbu – palingan tambah merica aja)

Nah, pagi tadi saya menemukan bubur ayam jenis baru. Baca lebih lanjut