Kepada Buku, Aku Mencari

Jadi, sudah beberapa minggu lalu saya baru menyadari bahwa saya sudah lama tidak membaca buku. Waktu luang lebih banyak teralihkan untuk menonton dan crafting. Seketika saya mendapati kurangnya asupan literasi menjadi sumber keresahan yang saya alami; hal-hal hilang yang menjadi alasan membaca buku

1. Fokus

Akhir-akhir ini saya merasa semakin mudah lupa. Butuh usaha lebih untuk konsentrasi. Intinya kehilangan fokus. Padahal seringkali pekerjaan menuntut ritme yang paralel dan multitasking. Ya, seenggaknya skala prioritas yang mumpuni. Kejadian seperti ini sebenarnya sering berulang. Pernah suatu waktu seorang teman kemudian mengingatkan, “kurang baca tuh!”

Ah, kali ini pun saat melihat beberapa kicauan di Twitter atau linimasa Instagram yang membahas buku, teguran teman tadi langsung menggema.

2. Sudut pandang baru

Berdiam diri di rumah selama pandemi dan berkutat dengan rutinitas, siapa yang tidak bosan? Menemukan sudut pandang baru menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi untuk membunuh rasa bosan. Mulai dari menonton, mengganti-ganti genre playlist, hingga eksplorasi skill, semua saya lakukan. Tapi lama-lama hal-hal tadi malah berulang kemudian menjadi rutinitas, dan sedikit demi sedikit saya tidak bisa menemukan kebaruan.

Yang saya lupa ada satu media lain, yang bisa memberi sudut pandang baru. Bacaan, terutama dalam hal ini buku. Beda dengan tulisan-tulisan pendek yang mungkin setiap hari seliweran di media sosial, buku menawarkan bacaan yang lebih kaya. Lebih intim. Lebih luas.

3. Teman dan Guru yang pas ritmenya

Entah sebagai teman pengisi waktu luang atau sebagai guru yang memberikan wawasan baru, ritmenya ditentukan oleh pembacanya. Mau pelan atau cepat, mau dibaca bolak balik berulang atau langsung meloncat ke bagian yang diperlukan. Setidaknya tidak terlalu ribet dengan tombol Fast Forward atau Rewind. Entah titiknya terlalu maju dan mundur.

Berbeda dengan media lain, misalnya dengan

Perjalanan Mengenal Diri : Sebuah Epilog #Kubbu30HMC

Enggak kerasa, akhirnya sampai juga di hari terakhir #Kubbu30HMC, program online di bulan Oktober 2020 dari Klub Blogger dan Buku (KUBBU). Seperti yang sudah saya bilang, agak ambisius kalau menginginkan bisa lulus, apalagi dengan nilai cum laude dari program ini.

30 Hari Menulis Cerita dengan tema-tema yang sudah ditentukan, begitu tantangan program ini. Ini bukan kali pertama saya mengikuti tantangan menulis serupa. Sudah tiga tahun saya juga ikutan program sejenis di platform micro blogging dengan gambar sebagai base-nya. Bahkan di program yang saya dan tim canangkan sendiri di salah satu platform menulis di mana saat itu saya masih aktif sibuk di balik layarnya. Hasilnya? serius saya belum pernah lulus.

Mengingat rekam jejak sebelumnya, sejak awal sudah pesimis bisa konsisten menulis apalagi dengan batas minimal 250 kata di tiap artikel. Tapi, entah, tetap nekad aja sih. Penasaran. Oh, ya tentu saja, tetap saja hasilnya enggak lulus. Sampai tulisan ini diunggah, saya baru berhasil setor 11 tulisan dari 30 tema. Ya, ampun!

Oh, tapi saya tidak merasa tertekan, hehe. Awalnya saya sempat berpatokan pada angka, ingin mengejar jumlah artikel. Lalu dalam perjalanannya, saya sempat keteteran membagi waktu dengan kegiatan lain dan akhirnya berujung sakit. Prioritas saya set ulang dan terus terang program ini menjadi yang paling akhir.

Meski merasa gagal dalam angka, tapi ternyata saya menemukan sisi lain yang jauh lebih bermakna. Buat saya #Kubbu30HMC adalah perjalanan untuk mengenal diri sendiri. Sebagai ajang refleksi diri, termasuk ketika merelakan untuk tidak memaksa posting setiap hari.

Paling mengena ketika saya harus menulis 30 fakta. Ada hal-hal yang sebelumnya saya tidak tersadar, namun kemudian jawabannya muncul begitu saja saat saya sedang menyusun tulisan untuk tema tersebut.

“Ooh, iya juga ya, jadi kemarin saya begini tuh karena begitu ya…”

Jadi, kali ini saya tidak menganggapnya sepenuhnya gagal. Terima kasih sudah memberikan kesadaran baru tentang diri yang sebelumnya terlewatkan.

Entah, ke depan apa saya masih mau meneruskan sisa hutang komitmen personal. Maunya iya, tujuannya bukan bayar hutang sih, tapi untuk semakin menyelami diri sendiri. Sebenarnya beberapa tema sudah pernah saya tulis untuk tantangan serupa, tapi tetap saja tak bisa langsung saya copy paste. Bukan cuma soal jumlah kata, tapi juga kadang ada sudut pandang yang sudah berubah seiring usia yang semakin bertambah.

So,  seperti kata Miminnya #Kubbu30HMC “This is not a goodbye, this is a new hello”.

See You

Menuju Paris

Hari ini aku terbangun dari tidur dengan senyum sumringah, meski suara alarm terdengar begitu memekakan telinga dan kantuk masih setengah melanda. Bagaimana tidak, hari ini perjalanan impianku akan terwujud. Oh, lebih tepatnya besok, karena pesawatku baru akan lepas landas lima belas menit selewat tengah malam.

Sekali lagi aku cek semua persiapan untuk perjalananku hari ini. Rasanya sudah siap semua. Sudah seminggu terakhir semua check list travelling bolak balik aku periksa. Efek gugup karena trip perdana ke Perancis, tempat paling romantis katanya. Meski sayangnya aku tak pergi dengan pasanganku.

Kembali melihat itinerary dan barang bawaan, malah semakin membuatku gelisah. Ah, lebih baik aku menyibukan diri dengan draft yang aku tulis untuk 30 Hari Menulis Cerita. Apalagi nanti kalau perjalanan sudah dimulai, mungkin waktu untuk menulis akan semakin terbatas. Tambahan lagi, takutnya ketika sudah terlanjur jatuh cinta dengan Paris bisa-bisa aku lupa menulis sesuai tema.

Ah, tapi otakku sepertinya juga sudah mulai sulit diajak bekerja sama. Draft tulisan yang sejak tadi kubuka cuma bisa kupelototi hampir selama tiga jam tanpa mengetikkan satu kata pun di situ. Kacau. Waktu masih tersisa lebih dari dua belas jam menuju last check-in. Tapi entah, gelisah ini semakin menjadi, seperti merasa ada yang salah.

Aku memutuskan untuk berangkat sekarang, lalu menunggu di bandara saja daripada khawatir berlebihan takut terlambat. Tak lupa menelpon teman seperjalanan tentang perubahan jadwalku. Karena kami sebelumnya menjadwalkan bertemu di Stasiun Duri, lalu naik kereta bandara dari sana bersama-sama.

Perjalanan kali aku memutuskan untuk naik kereta menuju bandara. Biar sekalian pengalamannya. Meski sebenarnya akses menuju kereta bandara dari tempat tinggalku di Tangerang Selatan cukup sulit. Aku harus transit di stasiun Tanah Abang, lalu pindah jalur KRL menuju Stasiun Duri. Ribet.

Sambil menunggu KRL datang, aku sempatkan menelpon keponakan untuk mengingatkan jangan sampai lupa memberi makan kucingku. Kemudian aku bergegas naik KRL, perebutan kursi KRL biasanya lebih dramatis ketimbang kursi dewan yang terhormat. Persaingannya terlihat lebih nyata. Tak hanya butuh kekuatan mental tapi juga fisik yang lebih dari sekedar kuat.

Sesampainya di stasiun Duri, sebuah pesan masuk. Sang Teman, sedang dalam perjalanan menyusulku, butuh waktu kurang dari 20 menit untuk sampai. Baiklah, kuputuskan keluar dari stasiun, untuk mengisi perut yang sedari pagi belum diasupi makanan. Sebuah warkop tak begitu jauh dari stasiun tampak begitu menggiurkan. Indomie buatan abang warkop bakal jadi menu yang paling dikangeni, meski di koper juga sudah kuselipkan beberapa sebagai bekal.

Temanku datang ketika aku sedang mengaduk nasi dalam piring yang dipenuhi indomie. Entah setan lapar mana yang merasukiku. Pantangan menyatukan dua jenis karbohidrat sudah tak kuhiraukan lagi. Temanku cuma bisa memandang ngeri, mungkin mual melihat isi piringku. Aku juga hanya meringis menjawab tatapannya.

Perjalanan menuju bandara berikutnya berlangsung aman. Check in yang ribetnya berkali lipat karena efek pandemi juga lancar tanpa hambatan. Gelisah yang semenjak tadi padi menyerangku mungkin hanya efek kegugupan, lalu menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Tiket dan paspor yang masih di tangan kupandangi lagi dengan rasa sedikit haru separuh tak percaya. Nun jauh disana, Menara Eiffel berdiri tegak menantiku untuk kuabadikan dalam catatan perjalanan.

Ah, tapi gelisah itu masih ada. Memikirkan alasan kegelisahanku membuatku mengantuk. Taka pa mungkin lelap sekejap, membayar beberapa kekurangan tidur beberapa hari terakhir. Belum lama kurasa saat kudengar alarm kembali membangunkanku. Hmm, aneh, aku tak memasang alarm. Kuraih ponselku yang tak berbunyi. Tapi kenapa tempat duduk di bandara ini empuk sekali, nyaman seperti tempat tidurku, dan kenapa gelap sekali, mungkinkah bandara mati lampu, aneh. Kesadaranku kembali penuh saat suara alarm terus berbunyi. Ah sial, mimpiku terhenti, bahkan saat belum mencapai Paris. Bunyi serupa alarm terus berbunyi, aku menyadari bahwa token listrik sudah habis.

Membaca Emosi

Apa jadinya manusia tanpa emosi? Saya jadi teringat serial drama korea yang akhir-akhir ini baru saja saya tonton, Stranger. Di mana ceritanya sang tokoh utama, Hwang Si Mok, seorang jaksa kehilangan emosis sejak bagian otaknya yang mengatur emosi diangkat. Tentu saja karakternya kemudian menjadi datar. Segala sesuatu dia hitung berdasarkan nalar dan logika. Tapi bukan berarti sebenarnya Si Mok ini menjadi manusia tanpa emosi. Pada beberapa scene digambarkan dia tersenyum. Bahkan ada satu adegan Si Mok pingsan karena emosi yang menumpuk tapi tak dia kenali dan tak tersampaikan.

Pernah bertemu orang yang seperti Si Mok? Mungkin jarang. Tapi sebenarnya kita seringkali bercakap dengan orang nol emosi. Oh bukan secara harfiah ya. Kapan? Yaitu saat kita bercakap melalui tulisan. Sebenarnya tulisan itu nol emosi. Yang membacanyalah yang menambahkan emosi pada tulisan yang sedang ia baca sesuai persepsi yang dia terima.

Nah, masalahnya, seringkali orang menganggap benar apa yang ia persepsikan, terus jadi baper sendiri. Misalnya nih, dapat jawaban pesan yang super pendek. Seringkali diartikan si penjawab sedang kesal. Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin saja si penjawab sedang sibuk jadi cuma menjawab sekenanya.

Yang sering terjadi juga adalah kesalahan memberi intonasi. Ujung-ujungnya jadi salah persepsi lagi. Inilah salah satu kekurangan dari pembicaraan melalui media tulisan adalah tidak adanya nada. Salah intonasi ini paling sering terjadi pada kalimat atau kata yang memiliki banyak warna. Misalnya kata ‘terserah’. Jangankan dalam tulisan, diucapkan secara langsung saja tetap bisa salah persepsi, apalagi ketika hanya dalam tulisan.

Memberi emosi pada sebuah tulisan memang gampang-gampang susah. Apalagi ketika konteksnya sangat tipis dengan sulutan emosi, misalnya ketika komplain. Saya pernah suatu kali komplain melalui pesan teks. Sebenarnya saya tidak dalam keadaan marah ketika mengajukan komplain. Ya, biasa saja, menceritakan masalah dan meminta solusi. Hanya mungkin yang membaca sudah sensitif duluan, jadi membaca pesan saya seolah saya sedang marah, dan kemudian tersinggung duluan.

Sejatinya saat menulis, kita memang harus berhati-hati. Sebisa mungkin maksud dan tujuannya jelas terbaca. Pun saat membaca, taruh dulu emosi dan persepsi yang melatarinya, agar bisa jelas membaca emosi pada tulisan.

Beberapa Menit di Lift

Ting!

Mendadak hatiku ikut berdebar seiring terdengar suara bel lift, menandakan pintu lift akan segera terbuka. Lift yang akan mengantarkanku ke lantai lima gedung ini. Lantai lima, tempat ballroom berada, tempat berlangsungnya acara reuni sekolah saat masih mengenakan seragam putih biru. Tempat di mana teman-teman semasa itu akan berkumpul dan bernosalgia bersama. Tempat dimana dia, yang pertama kali mengisi hatiku, juga mungkin akan datang. Dialah yang menjadi alasan kenapa hati ini jadi berdebar.

Debar ini semakin bertalu-talu, saat kaki mulai melangkah masuk ke dalam lift. Seketika ingatan terasa penuh dengan adegan-adegan berbelas tahun silam, seperti saling berebut mengisi frame. Kami dulu sekelas dia terpilih sebagai ketua murid kelas, sementara aku wakilnya.

Aku teringat saat ulangan harian, terdengar suaranya mendukungku dari luar kelas. Ya, maklum terkadang guru membagi kelas dan jam pelajaran menjadi dua saat ulangan agar masing-masing murid dapat duduk sendiri. Aku juga masih ingat jelas bagaimana rasa rona malu, saat teman-teman menggoda kami.

Sebenarnya entah aku tak pernah tahu benar bagaimana perasaannya, hingga detik ini. Aku hanya menyangka bahwa dia juga menyukaiku. Baiklah, mungkin lebih tepatnya ‘berharap’ karena aku menyukainya. Bisa saja aku salah mengartikan. Tapi, tak bisa kupungkiri, aku berharap banyak saat temannya bilang kalau dia menyukaiku. Mendengarnya saja sudah bikin senang.

Tanpa sadar, senyumku mengembang sambil menggeleng-gelengkan kepala mengingat masa remaja yang baru mulai mengenal virus merah jambu. Lucu separuh geli sendiri kalau diingat-ingat sekarang.

Sekali lagi, kucoba menelusuri hatiku, kali ini lebih berhati-hati. Gerangan apa yang membuat debar-debar ini bermunculan? Hmmm, rupanya tanya itu masih tersimpan di sudut hati. Selama belasan tahun terkubur dengan banyaknya perjalanan hidup yang juga membutuhkan ruang pikiran dan hati.

“Apakah dia menyukaiku?”

Sesederhana itu. Tapi tentu aku tidak akan menanyakannya. Buat apa? Biar saja menjadi tanya yang tak pernah ada jawabnya. Hmm, lalu apa kabar ya dia sekarang? Semenjak lulus SMP kami tak pernah sekalipun berkomunikasi.

Pikiranku masih dipenuhi ingatan tentangnya ketika pintu lift hampir tertutup. Mataku masih sempat menangkap sesosok lelaki berusaha mengejar lift.

“Tunggu!” Teriaknya. Jariku refleks menekan tombol untuk membuka pintu. Lift pun kembali terbuka. Lalu baru kusadari ternyata sosok tadi adalah dia. Yang semula hanya berada di angan, kini menjelma nyata berdiri di sebelah.

“Terima kasih” ujarnya

“Ya sama-sama. Apa kabar Dit?”

“Eh, baik….” Jawabnya bernada ragu. Wajahnya nampak kaget, kemudian berusaha mengingat.

Seketika aku tersenyum sendiri, menyadari bahwa tanya itu sudah memerlukan lagi jawabnya.

Nyasar

Nyasar! Inilah yang pertama terlintas di pikiran ketika membaca kisi-kisi dari mimin #Kubbu30hmc tentang keluarga. Hehe, iya, saat kami sekeluarga jalan bareng, bukan cuma sekali dua kali kami merasakan namanya nyasar. Serunya, cerita nyasar ini sering jadi bahan obrolan saat mengenang momen-momen bersama lalu tertawa bareng-bareng. Enggak pernah bosen untuk diceritakan ulang.

1. Nyasar di Jumanji, eh JumantoroBaca selebihnya »

iuef’s Playlist

Bingung ketika ditanya musik favorit. Bukan karena saya tidak suka musik, tapi justru karena telinga saya bisa mendengarkan apa jenis musik apa saja. Rentangnya terlalu luas. Masalah kedua adalah saya juga tidak terlalu paham dengan genre musik. Misal, musik Pop saja ada banyak warnanya, ada yang saya suka ada enggak. Jadi mungkin agak sulit menjelaskan dalam tulisan

Jenis lagu yang saya putar biasanya sangat dipengaruhi mood dan situasi. Kalau sedang aktiftas yang menuntut fisik, kayak olahraga atau ngepel rumah, saya suka mendengar lagu yang iramanya cukup nge-beat, akhir-akhir ini didominasi dengan lagu-lagu Latin bikin kaki pengen salsa. Beda lagi kalau cuaca sedang panas-panasnya, butuh lagu buat ngademin dan enggak berisik, biasanya saya pilih lagu instrumen doang, yang gak pake nyanyi. Tapi kalau mendung dan hujan, biasanya saya pilih lagu yang iramanya lebih ceria tapi nggak berisik, misalnya dalam bentuk acapella atau accoustic. Saat sedang menikmati waktu yang aktifitasnya cenderung relaks, lagu-lagu dengan nuansa romantis biasanya jadi pilihan. Kadang sambil sing a long.

Saat sedang membutuhkan konsentrasi tinggi, biasanya saya memilih lagu-lagu light Jazz. Makin malam, makin berat Jazznya. Haha. Nah kalau udah kecapekan mikir, biasanya jadi susah tidur, biasanya saya dengerin suara hujan, atau hutan, atau laut. Iya sekarang kan banyak yang menyediakan rekaman suara alam. Ini benar-benar menenangkan, saat emosi sedang meletup atau swing mood atau pikiran sedang ruwet nggak jelas hingga hilang fokus, mendengarkan suara alam selalu berhasil mengembalikan kewarasan lagi.

Ada kalanya, enggak peduli dalam situasi apapun, saya bisa memutar playlist yang sama berulang kali. Biasanya ini karena sedang demam sesuatu. Seperti misalnya tempo hari saya sedang tergila-gila sama drakor Hospital Playlist, hampir satu bulan, soundtracknya itu melulu. Selain karena ceritanya, pilihan lagu-lagunya juga cukup antimainstream dari kebanyakan soundtrack drakor lainnya.

Kalau ditelisik lagi, ada saja penyanyi yang selalu berhimpitan dalam beberapa playlist. Biasanya lagu-lagunya hampir enggak pernah gagal di kuping saya.

  1. MC Mong

Rapper dari Korea Selatan ini saya kenal dari variety show 1n2d. Yang bikin saya selalu suka dengan karya musiknya, lagunya terdengar ceria dan jenaka, dengan irama yang pas banget di telinga. MC Mong sempat vakum juga dari dunia musik karena tersandung kasus skandal wamil. Baru tahun 2019 MC Mong mulai berani kembali lagi sebagai penyanyi.

2. Michael Buble

Berawal dari lagu “Save The Last Dance For Me” saya mulai jatuh cinta sama musik-musiknya. Apalagi pas denger “The Way You Look Tonight” versi Mas Buble. Ini lagu memang sudah termasuk jadi lagu favorit sejak film “My Best Friend Wedding” (ya ampun jadul amat sih filmnya). Gimana enggak makin jatuh hati sama Mas Buble.

3. Brian McKnight

Dari semua lagunya, yang paling memorable adalah One Last Cry, sedih banget. Lagi nggak sedih aja bisa kebawa mellow, apalagi kalau memang lagi butuh nangis, pecah deh. Satu lagu lagi “Married your daughter”, ini tuh selalu bikin nyess, bercerita tentang laki-laki yang sedang meminta restu sama si Bapak perempuan. Yang bikin nyess, adalah siapa pun sang Pria Penyulap, nggak pernah punya kesempatan buat minta izin sama Bapak. Tuh, kan jadi otomatis mellow.

4. Camila Cabello

Nama ini baru muncul belakangan sih di Playlist saya. Awalnya sedang mencari suana baru dari playlist-playlist yang sudah ada. Teringat Havana dan anaknya temen yang masih 1 tahun bisa ngtefans dan otomatis joged kalau denger lagu Mbak Camila, ternyata ketika iseng memutar This is Camila Cabello di aplikasi pemutar lagu paling hit saat ini, eh kok saya suka ya. Enak buat menemani aktifitas, dan langsung menemukan lagu romantis baru yang plek banget di kuping “Mi Persona Favorita”

5. Chrisye

Aduh, penyanyi legenda Indonesia ini juara banget, kayaknya nggak ada deh lagunya yang saya skip, misal ketika sedang enggak mau denger. Kalau ditanya paling memorable lagunya yang “Ketika Kaki dan Tangan Berkata” yang liriknya dibuat oleh Taufik Ismail, selalu sukses bikin merinding. Intropeksi lagi. Masya Allah, semoga Allah memberikan amal jariyah untuk beliau dari lagunya yang ini.

Masih banyak lagi sih, ini tadi 5 pertama mencuat di pikiran. Mungkin kapan-kapan bisa dibahas lagi

Saya dan 30 Fakta

Entah siapa saya, sampai-sampai harus mengungkap fakta tentang diri saya sendiri. Tapi ya demi #kubbu30hmc, apa boleh buat? Silakan ambil baiknya, jangan tiru buruknya, dan tertawakan kekonyolannya. Mari mulai, inilah 30 keping saya:

1. Si Bungsu

Terlahir sebagai anak terakhir dari 3 bersaudara yang semuanya perempuan, memberi keuntungan tersendiri. Misalnya, sering dapat lungsuran baju, buku sekolah, oh yang enak dapat sogokan coklat dari cowok-cowok yang lagi PDKT sama kakak. Tapi yang paling menyebalkan meski jarak usianya jauh, saya juga pernah dikira jadi sang kakak. Kesal.

2. Mojang Bandung yang keturunan asli Ponorogo

Lahir dan besar di Bandung, tapi nggak fasih-fasih amat berbahasa Sunda. Maklum orang tua saya asli Ponorogo, Jawa Timur. Tapi juga nggak bikin saya fasih berbahasa Jawa sih. Tapi cukup untuk mengerti percakapan sehari-hari. Oh, tapi pernah waktu masih kecil dimarahin Ibu, lalu dengan wajah polosnya bilang “Ibu tuh ngomong apa sih?”.

3. Pecinta Kucing

Fakta ini mungkin bukan rahasia lagi. Tapi mungkin ada yang belum tahu kalau kucing saya pernah melahirkan di punggung saya, pas saya lagi tidur. Terbangun karena merasa ada basah-basah di punggung, pas berbalik, satu anak kucing sudah brojol.

4. Suka nari, terutama tarian tradisional

Bahkan saat SMA, saya ikut ekstrakulikuler LISDA. Lingkung Seni Sunda. Sempat beberapa kali manggung sebagai apsari – penari dalam upacara penyambutan dan penari ronggeng panggung. Sampai sekarang masih suka menari di rumah, hitung-hitung sebagai olahraga.

5. Memutuskan berhijab mulai kelas 2 SMA

Jadi pas SMA, ekstrakulikuler yang saya ikuti itu dua. Yang satunya LISDA, yang satunya kerohisan. Paradoks memang. Sejak berhijab, kemudian saya pensiun jadi penari.

6. Bisa main piano, meski cuma level beginner

Jaman SD pernah ikut kursus piano, tapi cuma beberapa bulan aja. Gara-garanya, malu, abis bolos berturut-turut. Padahal sudah diiming-imingi Ibu, kalau naik level dibeliin piano. Sampai sekarang kalau ingat masih suka menyesal.

7. Suka dengan Craft

Akhir-akhir ini lagi hobi banget merajut dan bikin buket snack atau buket apa aja sih. Pokoknya ada ajakan bikin kriya apa aja bakalan happy. Decoupage? Oke. Makrame? Oke. Paper Quiling? Oke. You name it! Saya akan tetap menjawab “Oke!”. Boleh loh kalau mau order barang kriya handmade ke saya. (Loh kok malah promo)

8. Ceroboh

Salah satu momen ceroboh yang paling berkesan adalah saat nggak sengaja menjatuhkan kartu peserta UMPTN saat mendaftar ke universitas swasta. Untungnya ditemu oleh orang baik dan menelfon ke rumah. Bapak sampai marah besar, padahal Bapak hampir nggak pernah marah selain untuk masalah ibadah.

9. Pelupa

Ada aja yang ketinggalan atau lupa naruh. Saking pelupanya, sohib sampai bilang “kalau hidung nggak nempel mungkin juga bisa lupa”. selama kerja selalu bikin papan to do list sama month spread, biar gak ada yg kelupaan.

10. Hobi Nonton

Saking sukanya, saya nggak masalah nonton di bioskop sendirian. Oh, tapi saya nggak selalu harus nonton di bioskop juga sih. Sering juga saya sabar nunggu versi streamingnya aja.

11. Terjebak love and hate relationship sama Mie.

Jarang banget bisa nolak segala jenis olahan Mie. Masakan satu ini memang favorit sejak kecil. Masalahnya, sekarang, begitu makan Mie, timbangan berat badan langsung bertambah, kalau udah gini jadi sebel sama Mie.

12. Lebih suka teh tawar ketimbang teh manis

Mungkin karena sudah manis dari dalamnya. Eww. Enggak deng, mungkin karena bosan ya waktu kecil terbiasa dibuatin teh manis buat sarapan. Setiap hari. Kalau saya minum teh manis, berarti saya mungkin sedang butuh asupan gula berlebih.

13. Suka ngopi tapi enggak kuat kalau Robusta

Entah kenapa, kalau habis minum kopi Robusta pasti berdebar. Kukira awalnya aku jatuh cinta sama baristanya, rupanya kebanyakan kafein. Eww. Bercanda. Anehnya kalau kopi Arabica, fine-fine aja.

14. Pakai gigi palsu

Sekitar tahun 2007-2008, terpaksa harus melalui operasi besar karena ada kista di gusi. Total 14 gigi dicabut dan 18 gigi palsu dibuat. Kuberi tahu, pakai gigi palsu itu nggak enak banget, nggak bisa makan bebas.

15. Ambivert yang cenderung Introvert

Saya termasuk orang yang susah cerita sama orang lain, tapi pendengar yang baik. Senang berada di keramaian, tapi cenderung pasif. Gara-gara kepribadian yang ambivert ini saya pernah dua kali mengambil tes 16 personality dalam waktu kurang dari 3 bulan, hasilnya bisa beda, yang satu menunjukkan introvert, satu lagi extrovert.

16. Manusia malam yang sudah mulai kehilangan kesaktiannya

Dari dulu, otak saya bekerja lebih efisien ketika malam hari. Skripsi saya dulu lebih banyak dikerjakan malam hari, ditemani kucing kesayangan. Tapi, agaknya akhir-akhir ini, badan mulai berasa kurang enak kalau dipaksa begadang, yah dimaklumi saja, faktor usia. Sekarang mulai belajar dan memaksa diri untuk mengoptimalkan di pagi hari.

17. Lelet

Entah, ketika mengerjakan sesuatu, saya membutuhkan lama dibandingkan orang lain. Tidak selalu, tapi kecenderungannya begitu. Karenanya, ketika SD, teman-teman saya memanggil saya dengan sebutan siput.

18. Moody yang berujung pada bosenan

Nah, ini yang bikin bingung kalau ditanya soal segala sesuatu yang difavoritkan. Karena semua soal mood. Satu waktu bisa suka, satu waktu bosan sekali, lalu bisa suka lagi.

19. Susah Move On

Meski saya bosenan, tapi kalau soal jatuh cinta itu saya susah move on. Susah jatuh cinta, tapi kalau kadung terjerembab, ya susah juga move-on, meski sebenernya tahu benar telah jatuh cinta sama orang yang salah.

20. Pelor

Pelor alias nempel molor, terutama di perjalanan. Bisa banget baru naik mobil, enggak sampai lima belas menit sudah pulas. Di kendaraan umum juga bisa pulas. Soal kebablasan jangan tanya, bukan cuma sekali dua kali. Tapi, syukurlah enggak pernah kecopetan, saat tertidur. Pernah juga sedang menunggu antrian terapi, saya malah tertidur di ruang tunggu yang sebenarnya penuh orang.

21. Enggak terlalu suka masak, tapi justru bisnisnya kuliner.

Sebenarnya alasan saya enggak suka masak karena saya enggak suka beres-beres sisa masaknya. Jadi, daripada harus bebersih ya sekalian aja enggak usah masak. Bisnis kan

22. Pendengar yang baik.

Banyak sih yang bilang, kalau saya enak diajak curhat. Ini juga yang dulu memotivasi saya untuk jadi psikolog, cita-cita yang kandas.

23. Lebih suka pantai daripada gunung.

Mungkin karena lahir dan besar di Bandung, jauh dari pantai. Ditambah lagi kalau imunitas sedang drop, alergi dingin saya bisa kambuh. Oh, tapi bukan berarti enggak suka gunung ya, bisa melihat awan berarak di bawah kaki juga luar biasa menyenangkan

24. Punya motor tapi cuma jadi pajangan garasi.

Karena enggak bisa, eh belum bisa menaklukan rasa takut bawa motor, takut nabrak.

25. Belum pernah lolos jadi pendonor darah.

Dulu, berat badannya selalu kurang. Pas berat badannya sudah mencukupi, tekanan darahnya yang terlalu rendah. Pas tekanan darah normal, giliran HBnya yang rendah.

26. Punya kecenderungan memendam stress.

Sering enggak sadar kalau sebenarnya sedang stress, biasanya badan yang kasih tahu. Sejak kecil, setiap menjelang ujian selalu sakit. Kata Ibu , saya stress, tapi saya selalu ngerasa biasa aja. Eh, pas sudah bekerja, kaki saya menderita eksim hebat. Ketika konsultasi medis, dokternya bilang

“Ini sih karena stress, Mbak. Sudah resign aja…”

Padahal saya juga ngerasa enggak stres berat. Tapi saya jadi mengiyakan analisa Ibu.

26. Senang belajar hal baru

Ini juga efek saya yang bosenan. Jadi kalau menemukan sesuatu hal yang baru, seringnya excited sendiri. Suka rajin juga ikut kelas kursus, apalagi masa pandemi seperti ini, kursus-kursus online bertebaran dengan biaya yang hemat.

27. Suka melarikan diri ke toko buku, perpustakaan, atau cafe sendirian.

Biasanya saat mood sedang mudah berantakan, saya butuh waktu sendirian ke salah satu atau malah keduanya. Me time yang sudah lama banget nggak dilakoni. Terutama sejak tidak bersatus sebagai pegawai. Ada saja alasannya mulai dari sayang uang, enggak nemu waktu yang pas, sampai malas aja sih ditanya ibu ‘mau ke mana?’ yang selalu diteruskan dengan pertanyaan ‘ngapain?’

28. Pernah ditaksir cowok Pakistan, tapi sudah menikah.

Yang heran adalah si cowok Pakistan ini bukan satu-satunya kasus saya ditaksir pria yang sudah menikah. Ada apa sih dengan saya?

29. Lebih cerewet lewat tulisan.

Saya memang termasuk orang yang lebih mudah menyampaikan lewat tulisan. Seringnya kalau bicara langsung belibet, dan agak meloncat-loncat. Saya juga sering dinilai pendiam di awal perkenalan, tapi ya bisa ‘bocor’ juga kalau pancingannya pas.

30. Butuh waktu dua minggu untuk menuliskan 30 fakta ini. (kalau serius dihitung, tulisan ini berisi lebih dari 30 fakta sebenarnya)

Entah karena kurang mengenal diri atau memang terlalu memilih fakta mana yang perlu dibeberkan. Padahal sudah pernah bikin tulisan serupa. But, yeay, it’s done, eventually.

Surat untuk Pria Penyulap Rindu

Hai, Tuan!

Apa kabarnya, Tuan di sana? Sehat-sehat saja, kan? Mungkin karena pandemi kita belum bertemu. Oh atau mungkin juga karean kita memang belum sampai di waktu yang paling tepat menurut Sang Maha Menepati.

Saya baik-baik saja, Tuan. Setidaknya saya berusaha baik-baik saja, meski menahan rindu itu berat. Persis seperti yang dibilang Dilan. Tapi Tuan tak perlu menggombal seperti Dilan, melarang saya untuk merindui Tuan. Itu lebih berat lagi.

Bagaimana tidak rindu, Tuan? Di usia saya, belum juga kita bertemu. Sementara sebagian besar orang lainnya, sudah saling bertemu, merajut cerita hidup baru. Ya meski juga tak sedikit yang kemudian memilih saling berpisah lagi. Kuharap Tuan, nanti setelah kita bertemu, tak perlu untuk mengucap pisah sementara raga masih bisa menyapa. Maka, meski rindu tak kepalang, saya tak mau terburu-buru menentukan siapa Tuan. Sembarang mengira pada setiap pria yang datang adalah Tuan.

Tapi Tuan, benarkah kita belum pernah bertemu? Mungkin saja kita pernah bertemu dalam selintasan jalan. Atau malah jangan-jangan, kita sudah saling mengenal lama, hanya saja Sang Maha Mengetahui belum memberikan PetunjukNya. Pasti menyenangkan ya Tuan? Menikah dengan teman, seperti Ditto dan Ayu. Proses perkenalan kita tak perlu berpanjang lagi.

Tenang saja Tuan, meskipun nanti ternyata Tuan belum mengenal saya, saya percaya kita pasti akan dengan mudah saling akrab. Sedikit banyak Tuan, bisa mencari tahu lewat tulisan-tulisan saya atau sejumlah informasi dari banyak pihak ketiga yang mengenal saya. Tapi mengobrol dan saling bercerita secara langusng itu lebih efektif Tuan. Berjanjilah, untuk tetap saling bercerita. Saya bukan cenayang yang bisa menerka pikiran Tuan bila diam. Pun, saya juga yakin di dahi saya tak tertampang tulisan apa yang dipikiran saya, sehingga hanya dengan melihat saya Tuan bisa membaca pikiran saya.

Ah, mungkin Tuan bertanya-tanya kenapa saya menyebut Tuan sebagai ‘Pria Penyulap Rindu’. Bagi saya rindu seperti hujan. Awalnya setitik, kemudian merintik. Lalu merapat, hingga melebat. Tapi tahukah Tuan? ketika Tuan datang, bulir-bulir rindu tadi seketika menjelma serupa mantra: me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Selayak matahari yang memprisma air merupa pelangi, berwarna warni. Ajaib. Seperti sulap.

Tuan, cepatlah datang. Hujan ini sudah sedemikian derasnya.