Asyik Menikmati Empat Kesenian Mamasa

Hari hampir beranjak senja saat semua sudah berkumpul untuk acara gelar budaya dalam rangkaian Pesta Tenun di Desa Balla Satanetean, Mamasa, Sulawesi Barat. Ada empat kesenian tradisional Mamasa ditampilkan sekaligus. Ada apa saja?

1. Tarian Bulu Londong

Tari-bulu-londong-mamasa
Suasana saat penampilan tarian Bulu Londong

Gendang telah ditabuh. Suaranya sontak menarik perhatian.

Read More »

Iklan

Mamasa: A Work(va)cation

Pesta Tenun Mamasa - Torajamelo
Sole Oha Lako Tondok Mamasa

Bekerja bersama Torajamelo telah membawa saya ke Mamasa, pada pertengahan Maret lalu. Dengan tim kerja berjumlah lima orang dan tambahan seorang antropolog yang sedang melakukan riset, kami membawa misi untuk mengadakan pesta tenun dan membawa pulang keriaan Sole Oha – sebuah pameran perayaan penenun dari empat wilayah, salah satunya adalah Mamasa. Kami ingin para penenun yang waktu itu tidak dapat datang ke Jakarta untuk mengikuti Sole Oha, juga bisa merasakan luapan semangat kebanggaan atas tenun mereka.

Antusias, tentu saja. Jika pada tahun sebelumnya bersama IKKON saya menginjakkan kaki ke Toraja, kali ini saya berkesempatan mengunjungi tetangganya yang masih bersaudara dekat.

Menuju Mamasa

tim kerja Pesta Tenun Mamasa
Tim kerja Torajamelo menuju Mamasa

Terbanglah kami ke pulau Sulawesi. Pukul 8 pagi waktu Indonesia Tengah, kami telah mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Lalu, perjalanan ke Mamasa dilanjutkan dengan perjalanan darat sekira 10 jam, dengan mobil sewaan.

Read More »

Perhitungan manusia versus ALLAH SWT

Stephen Hawking Died - renungan - iuef.wordpress

Di tengah diskusi kerjaan, kemudian ada breaking news, “Stephen Hawking Meninggal Dunia”

Well, saya bukan penggemar ilmu sains. Saya juga tidak mengenal banyak tentang teori-teori yang diutarakan Stephen Hawking. Hanya dari film “A Theory of Everything”, saya baru mengintip cerita hidupnya. Film yang ternyata diangkat dari buku memoar yang ditulis oleh mantan istri pertamanya. Jadi berita tadi hanya ditanggapi biasa saja oleh saya.

Berbeda dengan reaksi teman saya, yang secara spontan bilang, “Akhirnya…, setelah sekian lama”. Eh, tapi ini dalam bukan dalam konteks mensyukuri beliau meninggal ya! Tapi sebaliknya seperti melihat kebebasan setelah terkungkung dalam ketidakberdayaan.

Seperti yang kita tahu, Stephen Hawking telah lama menderita ALS, penyakit syaraf degeneratif yang menyebabkan kelumpuhan. Mendiang Stephen Hawking juga didiagnosis penyakit motor neuron, bahkan karena sakitnya yang ini, pada tahun 1963, beliau divonis hidupnya hanya sekitar dua tahun lagi. Tapi, siapalah dokter, yang notabene hanya manusia? Umur itu adalah hak prerogatif Allah. Nyatanya hingga lebih dari 50 tahun, Stephen Hawking belum kehilangan nafasnya, bahkan masih berkarya dengan segala disabilitas yang disandangnya. Di situ saya merasa kagum, meski di sisi lain menyayangkan keputusannya dalam melihat Sang Pemberi Hidup. Buat saya, semacam ironi.

Oh, cerita tentang hitungan manusia versus kehendak Allah, saya masih menyimpan satu cerita lagi, bahkan kali ini dekat sekali. Ini cerita kakek saya. Beliau pernah suatu kali divonis bahwa usianya mungkin hanya bertahan tiga bulan, karena sakit yang menyerang hatinya. Tapi beliau tidak pernah kehilangan semangat, tetap terus berikhtiar dan juga tak kalah aktif berbuat untuk sesama serta memberi inspirasi. Menjalani hidup dengan ikhlas “Lillahi Ta’ala”.

“Hidup saya ini milik Allah, jadi ya terserah Allah saja kapan mau memanggil saya”

Begitu tiap kali kondisinya ngedrop, lalu dokter-dokternya hanya bisa menghitung dari ilmu manusia. Kuasa Allah kemudian yang membuatnya bertahan tujuh belas tahun. Awal tahun ini, Allah memanggilnya pulang. Atas segala yang dikerjakannya dalam organisasi keislaman dan pendidikan, membuat jumlah pelayat membludak ingin mensholatkan beliau. Semoga husnul khotimah. (Bahkan saat menuliskan ini, saya kembali merinding)

Dokter-dokter yang menananginya, semua melihatnya sebagai mukjizat, karena secara ilmu kedokteran, hampir tidak mungkin manusia bertahan hidup hanya dari 10% fungsi hati, tanpa transpalansi. Tapi nyatanya ada.

Tentu masih banyak cerita lain, bahwa Allah memiliki perhitungannya sendiri. Kamu punya? Share di komentar dong..

Writer’s Block, Apa yang Harus Dilakukan?

Postingan kali ini saya mau curhat aja, boleh ya? Jadi ceritanya saya sedang dikejar setoran tulisan dari dua komunitas yang berbeda. Sebenarnya bahan tulisan ada, tapi entah, rasanya tiap kali mau menuliskannya selalu ada yang kurang. Padahal deadline sudah di depan mata! Ah, masalah Writer’s Block ini memang selalu membuat frustasi, terutama ketika kita merasa hampir kehabisan waktu.

Persis seperti yang saya alami hari ini. Hampir seharian di depan laptop. Enggak diam sebenarnya. Bahkan sudah menulis satu draft tulisan siap edit. Lalu, pas cek ulang, masih kurang data dan foto. Jadi kurang greget. Kemudian mulai menimbang, apa lagi yang bisa saya tulis dan bisa selesai hari ini. Tapi  yang terjadi adalah otak mengalami kebuntuan, masih kepikiran sama tulisan sebelumnya. Rasanya semakin frustasi. Lalu apa yang biasa saya lakukan ketika mengalami Writer’s Block?

writer's block tipsRead More »

Belajar SEO Content Bareng Blogger-Blogger Perempuan

Girang bukan kepalang ketika akun Instagram @bloggerperempuan menayangkan informasi kelas workshop SEO Content. Maklum, saya ini masih gagap banget soal SEO ini. Mencoba membaca artikel-artikel yang membahas SEO yang bertebaran tidak berhasil membuat saya merasa paham. Syukurlah, kedatangan saya di kelas workshop SEO Content yang berlangsung Sabtu, 3 Maret 2018 di EV Hive City Plaza Kuningan, membuat kebingungan saya sedikit terurai.

Belajar bikin konten SEO bersama Blogger Perempuan
Para peserta #BPNWorkshopJKT “Membuat SEO Content”
Belajar Bikin SEO bersama Nunik Utami
Bersama Mbak Nunik Utami

Sebelum membahas materinya, kenalan dulu yuk sama pematerinya! Mbak Nunik Utami, Content Manager Blogger Perempuan Network. Kiprahnya di dunia tulis menulis tidak diragukan. Tengok aja blog pribadinya dengan alamat web yang sama persis seperti namanya, kamu bisa lihat beragam tulisan di situ. Belum lagi jumlah buku yang sudah diterbitkannya mencapai angka 58 and still counting. Dan lagi, Mbak Nunik masih aktif bekerja sebagai content writer di portal kesehatan Alodokter. Oh, yang semakin membuat saya takjub adalah energinya yang luar biasa mengikuti berbagai kegiatan. Energi yang menularkan semangat pada orang lain. Jadi, enggak heran kalau kemudian kelas berlangsung sangat interaktif. Sekitar 30 orang peserta yang semuanya perempuan, bersemangat mengikuti kelas.Read More »

[Ulas Buku] Hatta: Aku Datang karena Sejarah

Hatta: Aku Datang Karena Sejarah

Judul : “Hatta: Aku Datang karena Sejarah”
Penulis : Sergius Sutanto
Jenis buku : Fiksi Biografis
Penerbit : Qanita, 2013

Di sebuah pool travel, saya datang lebih cepat 30 menit sebelum keberangkatan. Bodohnya, saya lupa membawa buku untuk bekal perjalanan dan membunuh waktu tunggu. Akhirnya saya berselancar mencari ebook. Kali ini memilih untuk mencari buku biografis untuk dikoleksi. Mata saya kemudian terhenti pada sampul buku ini, ilustrasi seorang Muhammad Hatta. Lalu baru tersadar bahwa saya hanya sedikit tahu soal Hatta. Memalukan memang. Tanpa berpikir banyak, kuputuskan untuk membaca buku ini. Dan inilah catatan singkat tentang buku ini.

Read More »

Menulis Kasih, Mencecap Sayang

Kasih sayang.

Begitu tema untuk minggu ketiga proyek “One Week One Post” WiFI Region Jakarta. Tema yang mungkin terdengar mudah, bahkan termasuk mainstream untuk digelar di bulan Februari ini. Bulannya penuh cinta kata orang-orang (Hihi, memangnya bulan lainnya tidak?). Tapi, lalu yang terjadi adalah seminggu berlalu dan saya bahkan belum tahu mau menulis apa tentang kasih sayang ini. Seolah sulit. Padahal tentu tak mungkin sepanjang hidup terasa kering kasih sayang. Justru sebaliknya, setiap hari selalu dilimpahi oleh kasih sayang dari Ar-Rahman Ar-Rahiim. Sang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Pernahkah kamu mencoba menghitung berapa banyak nikmat yang telah dikasih olehNya? Berat, takkan sanggup, terlalu banyak. Menghitung berapa hela napas dalam satu hari saja sudah melelahkan. Belum lagi jumlah butir nasi yang ditelan, jumlah tetes air yang direguk, jumlah gerak setiap otot dan syaraf di dalam tubuh dan sederet rezeki yang kadang datangnya tak disangka-sangka. Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Kalimat tanya ini bahkan diulang hingga 31 kali dari total 78 ayat surah Ar-Rahman, seolah simbol untuk terus mengingatkan manusia yang memang mudah alpa untuk bersyukur.

Kasih sayang Sang Maha Pemberi tidak hanya berupa kesenangan. Bahkan bisa saja segala kemudahan yang kaurasa hanyalah ujian, apakah lena atau justru menambah imanmu. Sebaliknya, sesuatu yang buruk bisa jadi merupakan bentuk kasih sayangNya. Siapa tahu beban hidup yang sedang kautanggung adalah kerinduanNya untuk kausapa dalam doa-doamu. Bila tidak sayang, bagaimana bisa rindu?

Mungkin sakit yang sedang kauderita adalah bentuk sayangnya. Agar luruh dosa-dosamu dan memudahkan hisabmu nanti.

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”
(HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

Oh tapi juga bukan berarti lalu membiarkan tubuh terus didera sakit, tanpa usaha kembali sehat karena mengharap dosa terhapus lebih banyak. Bukankah dengan tubuh yang sehat, lebih mudah untuk mendulang pahala? Lagipula sengaja membuat badan sakit juga termasuk perbuatan zalim, jadi bukannya menghapus tapi justru menambah dosa.

Jangan berburuk sangka bahwa Allah sedang melupakanmu saat musibah mendatangimu. Mungkin musibah yang sedang kamu alami adalah bentuk peringatan agar kauhenti berbuat zalim dan memohon ampun padaNya. Bila tidak sayang, mungkin akan dibiarkan tenggelam dalam lalai, hingga tak ada waktu lagi bagimu untuk bertaubat. Na’udzubillah. Karena kasih sayang itu tidak memanjakan. Kasih sayang itu harus selalu membawa pada kebaikan.

Kadang-kadang, eh atau jangan-jangan sering kali, kita lupa bahwa kita dilimpahi kasih sayangNya. Lalu akhirnya kita juga lupa untuk membalasnya. Jika pada segala kasih sayangnya yang berupa nikmat yang menyenangkan berbalas dengan ucapan syukur. Maka pada tiap rasa yang dirasa berat, sabar adalah bentuk menyambut cintaNya.

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ”

(QS. Al-Baqaroh : 155-157)

Maka bersyukurlah dan bersabarlah, agar terus dapat mencecap kasih sayangNya. Lalu, sudahkah kamu bersyukur dan atau bersabar hari ini?


Tulisan ini dibuat untuk memenuhi setoran #oneweekonepost #wifiregionjakarta yang sudah terlewat 4 hari.

Belajar Travel Writing dengan Agustinus Wibowo di Smesco Netizen Vaganza

Karena suka kontennya, dan ada kemungkinan saya baca berulang, jadi saya re-blog biar gampang nyarinya. Thanks for write this!

Blogger Cilet-cilet

Sebagai blogger kampung daerah berjumpa dengan penulis idola adalah kejadian langka. Ketika kesempatan itu datang, tak hanya berjumpa tapi juga menimba ilmu travel writing dari sang idola rasanya seperti mendapat durian runtuh. Apalagi berjumpa dengan seorang Agustinus Wibowo, yang buku-bukunya ditulis dengan amat personal.

Lihat pos aslinya 748 kata lagi

Nonton Dilan 1990

dilan-1990-filmposter-411x600Saya memang suka dengan novel Dilan 1990 dan sekuel-sekuelnya. Tapi sebenarnya bukan karena alasan itu, kemudian saya memilih menonton film Dilan. Juga bukan karena alas an karena film ini sekarang sedang menjadi trending film Indonesia saat ini. Hampir setiap bioskop memasang film Dilan dalam 2 hingga 4 layar.

Memang, ketika isu film Dilan ini akan diangkat ke layar lebar, saya termasuk yang cukup antusias. Lalu setelah muncul nama pemerannya, seketika keinginan saya untuk menonton sirna. Menuduh film ini hanya akan jadi film-film romantis remaja Indonesia pada umumnya. Lalu ketika kemarin nonton teasernya di bioskop dan langsung menyadari bahwa lokasi syutingnya adalah di tempat saya belajar saat masih berseragam putih abu. Seketika itu pula tercetus, sepertinya film ini harus kutonton.

Ya, alasannya sesederhana itu, hanya karena lokasi syuting. Karena ini tentang sebuah nostalgia. Dan kemudian saya membuat janji nonton bareng dengan seorang teman yang juga merupakan anak generasi 90’an. Alasannya pun sama, untuk sebuah nostalgia.Read More »

Permulaan 2018

iuef-wordpress

Ini sudah penghujung Januari 2018. Sudah 29 hari berlalu. Menulis resolusi rasanya mungkin sudah hampir kadaluarsa. Yang lain mungkin sudah mulai bergerak menuliskan beberapa postingan baru, tapi saya baru mulai melangkah kecil. Tapi tidak apa kan ya? Sebagai permulaan setelah delapan bulan terakhir blog ini ditelantarkan, tanpa postingan baru.

Jadi, awal tahun ini, saya tidak memiliki aktifitas rutin sebagai pekerja. Proyek IKKON 2017 bisa dikatakan sudah selesai, urusan kelanjutannya bisa dipertimbangkan kemudian.. Secara professional saya juga sudah tidak lagi bergabung dengan Storial.Co. Masih sambil menikmati kebebasan waktu, yang terpikir adalah betapa saya ingin lebih serius lagi dalam tulis menulis, meski sempat trauma karena resolusi menulis 2017 gagal total. Karenanya, awalnya saya memilih untuk tidak muluk-muluk membuat resolusi selain aktif blogging lagi

Semangat ini kemudian diterjemahkan dalam keikutsertaan saya di #30haribercerita di Instragram. Sebuah For-Fun-Project menulis selama 30 hari non stop. Bagaimana hasilnya nanti saya bikin reportnya ya, di hari pertama bulan Februari. Selain proyek seru-seruan di Instagram saya juga ikut bergabung dengan WIFI Region Jakarta. Komunitas yang isinya alumni para peserta program menulis dari jaringan Inspirator Academy. Yak sebelumnya, saya sempat ikut kelas menulis artikel, yang gagal lulus, karena kebetulan waktunya berbarengan dengan acara pembekalan IKKON. Ah, soal IKKON ini saya akan menuliskan pengalamannya secara berseri di postingan lainnya.

Oke, lanjut ceritanya, di WIFI ini ternyata setiap anggotanya dipaksa untuk mendeklarasikan target menulis. Sempat bimbang, tapi akhirnya saya memutuskan untuk ikut serta, dengan target 1 buku pribadi. Meski sebenarnya belum jelas benar buku seperti apa yang akan saya tulis. Hanya berbekal cita-cita 2017 untuk membukukan pengalaman selama IKKON. Pertemuan perdana WIFI begitu menyenangkan, bertemu dengan orang-orang baru dengan semangat menulis yang lebih menggebu. Bahkan bertemu dengan seorang yang usianya jauh lebih senior tapi masih rajin mendatangi pertemuan-pertemuan kepenulisan, bahkan memiliki target 5 buku. Saya semakin termotivasi.

Lalu, itu saja? Tentu tidak, karena awal mula targetnya adalah rajin blogging, maka saya sempat membuat konsep postingan harian, untuk memudahkan saya membuat konten isinya. Jadi, isi postingannya, enggak melulu random, seperti yang ini. Mulai dari membuat review, random thought, fiksi, hingga catatan dari dapur. Empat tema dalam sepekan. Saya pribadi melihatnya sebagai sesuatu yang cukup ambisius, mengingat sebelumnya blog ini bahkan nganggur berbulan-bulan, dan proyek #30haribercerita yang masih menyisakan hutang. Oh bahkan bukan hutang 30haribercerita saja, bahkan proyek #oneweekonepost juga masih meninggalkan hutang. Dan hutang pertama masih dibayar dengan tulisan random, yang isinya curhatan, bahkan dengan jumlah kata yang tidak sampai 500. Batas minimal tulisan.

Kali ini saya menurunkan egoisme, membiarkan sebuah tulisan tanpa konsep, tanpa konten yang berisi. Mencoba menulis tanpa henti untuk sebuah permulaan. Kembali membiarkan otak dan jari yang bekerja dalam bebas, menuliskan sesuatu, menumpahkan sesuatu, hingga lama-lama otak dan jari kembali terlatih dan sanggup mengeksekusi ide lebih tajam dan berjiwa.

Salam,
Selamat mengarungi 2018, meski segala tantangan sudah kembali mulai terlukis dan siap melanda, jangan berhenti menulis!